Dunia merayakan Hari Ketahanan Pariwisata Global pada hari Senin (17/02) sebagai momentum penting untuk menyoroti pentingnya keberlanjutan, inovasi, dan kesiapan sektor pariwisata dalam menghadapi tantangan global. Hari peringatan ini menjadi platform bagi para pemangku kepentingan untuk berdiskusi, berbagi solusi, dan merancang strategi guna membangun industri pariwisata yang lebih tangguh dan adaptif.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata menghadapi berbagai tantangan, termasuk dampak pandemi global, perubahan iklim, serta ketidakstabilan ekonomi dan politik. Oleh karena itu, Hari Ketahanan Pariwisata Global hadir sebagai ajang refleksi dan aksi untuk memastikan industri ini dapat berkembang secara berkelanjutan tanpa mengorbankan lingkungan dan budaya lokal.
Menurut Dyaloka Puspita Ningrum, S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta ini juga menilai bahwa industri pariwisata sejauh ini telah terbukti mampu membangkitkan perekonomian rakyat, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai salah satu destinasi utama di Indonesia. Bahkan beragam prestasi yang membanggakan terus terukir dan dikuatkan juga melalui penyelenggaraan event dunia yang belakangan ini justru Indonesia terus didaulat sebagai tuan rumah.
"Artinya, penting bagi para pelaku pada industri tersebut untuk mempertahankan situasi yang menguntungkan itu. Tren pariwisata bagi masyarakat modern sekarang seperti halnya gaya hidup termasuk yang sudah banyak terjadi di wilayah DIY. Momen perjalanan dan praktik dokumentasi pun menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Apapun dapat menjadi komoditas," ucapnya.
Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UWM ini juga menyampaikan agar industri pariwisata di DIY tidak bersifat musiman, perlu adanya refleksi terhadap kegiatan pariwisata untuk tidak sekedar mampu beradaptasi dengan upaya transformasional yang penuh daya tarik semata, namun juga bernilai kemanusiaan yang beretika, serta berwawasan yang ramah lingkungan.
"Wisata berkelanjutan yang berpegang pada etika sejatinya kontrol sosial untuk mengendalikan hasrat berwisata bahkan ketika adanya hal-hal yang menyimpang. Penerapan etika dalam industri pariwisata itu tidak hanya untuk membentuk pengalaman yang menyenangkan. Melainkan turut menjadi usaha nyata dalam memperhatikan kelestarian ekosistem yang utamanya berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal sebagaimana merujuk pada Kebijakan Strategis Pembangunan dan Pengembangan Kepariwisataan DIY tahun 2019-2025," tutupnya.