Dalam rangka memperingati Hari Kartini, kita sering kali diingatkan untuk mengangkat semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini sebagai inspirasi abadi bagi perempuan Indonesia. Lebih dari sekadar simbol emansipasi, Kartini adalah manifestasi kekuatan perempuan dalam berpikir, bertindak, dan mengekspresikan diri. Tahun ini, peringatan Hari Kartini mengusung refleksi mendalam atas bagaimana perempuan masa kini melanjutkan perjuangan melalui ekspresi gaya dan upaya mencapai kesetaraan gender yang lebih adil.
Menurut Shulbi Muthi Sabila Salayan Putri, S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta mengungkapkan bahwa Kartini tidak hanya dikenang lewat gagasannya yang revolusioner tentang pendidikan bagi perempuan, tetapi juga karena citra dirinya yang elegan dan penuh makna. Ia menampilkan diri dengan anggun dan rapi, menyiratkan pesan tentang martabat, budaya, dan kekuatan perempuan. Di era modern ini, ekspresi diri melalui fashion menjadi kelanjutan dari bahasa perjuangan perempuan. Gaya berbusana tidak lagi hanya soal estetika, melainkan menjadi media komunikasi yang kuat untuk menyuarakan identitas, nilai, hingga bentuk perlawanan terhadap stereotip.
Lebih jauh, fashion kini menjelma menjadi bentuk demokratisasi komunikasi. Perempuan memiliki ruang untuk menyatakan jati diri mereka melalui warna, motif, potongan, hingga aksesori yang dikenakan. Baik tampil profesional dalam balutan formal, maupun kasual dalam keseharian, perempuan tetap dapat memancarkan intelektualitas dan integritas. Di ruang digital, fashion juga membentuk narasi diri—bahwa perempuan bebas memilih, bebas tampil, dan bebas menyampaikan suara melalui gaya yang mereka kenakan. Dalam setiap pilihan busana tersimpan narasi siapa kita dan bagaimana kita ingin dikenali oleh dunia. Gagasan yang disampaikan oleh Shulbi adalah bahwa gaya/mode merupakan upaya dari manusia untuk menyuarakan maknanya, terkhusus untuk para kaum Hawa.
Di sisi lain, Dr. Oktiva Anggraini, S.I.P., S.Pd., M.Si., Dosen Program Studi Adminsitrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta mengajak publik untuk melihat kembali substansi perjuangan Kartini dalam konteks pendidikan dan kesetaraan gender masa kini. Kartini adalah peletak dasar gagasan bahwa pendidikan adalah hak semua manusia, termasuk perempuan. Ia percaya bahwa lewat pendidikan, perempuan bisa berdaya, berpikir kritis, dan berkontribusi dalam membangun peradaban.
Namun, perjuangan menuju kesetaraan belum selesai. Data dari Gender Inequality Index (GII) tahun 2023 menunjukkan bahwa Indonesia mencatat angka 0,447—sebuah kemajuan, tetapi masih menunjukkan bahwa kesenjangan gender tetap nyata, terutama dalam akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan partisipasi ekonomi. Di sinilah peran pendidikan tinggi menjadi sangat penting. Sebagai pusat pengembangan ilmu dan pembentukan karakter, institusi pendidikan perlu aktif mendorong kebijakan yang inklusif dan berpihak pada kelompok yang rentan, termasuk perempuan.
Menurut Dr. Oktiva, pendidikan seharusnya menjadi ruang yang membebaskan, bukan membatasi. Institusi pendidikan harus mampu melahirkan generasi perempuan yang percaya diri, inovatif, dan berdaya saing. Kesetaraan gender bukanlah utopia, tetapi tujuan yang bisa dicapai jika diperjuangkan bersama, melalui riset, advokasi, dan aksi nyata. Ia juga menegaskan pentingnya peran aktif perempuan Indonesia, sekecil apa pun langkahnya, untuk terus berjuang menciptakan masa depan yang lebih setara. Gagasan yang disampaikan oleh Dr. Oktiva adalah refleksi perjuangan kartini dan tantangan kesetaraan gender masa kini masih menjadi tantangan yang terus dihadapi oleh manusia, khususnya para perempuan Indonesia.
Melalui peringatan Hari Kartini tahun ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mengenang sosok Kartini secara simbolis, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangannya dalam konteks masa kini. Emansipasi tidak hanya hidup di panggung pidato dan lembaran buku sejarah, tetapi juga dalam cara perempuan mengekspresikan diri, memperjuangkan haknya, dan membangun narasi masa depan. Dari ruang kelas hingga media sosial, dari lembar proposal hingga lembar kain kebaya, perjuangan Kartini terus berdenyut—dalam gagasan dan gaya yang menyuarakan makna.