Setiap tahun, tanggal 28 Februari diperingati sebagai Hari Gizi Nasional (HGN) di Indonesia. Hari Gizi Nasional pertama kali diperingati pada 28 Februari 1960, dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi yang baik bagi kesehatan tubuh. Sejak saat itu, Hari Gizi Nasional menjadi agenda tahunan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan berbagai organisasi kesehatan di Indonesia.
Hari ini juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang dan pola makan sehat. Mengusung tema “Pilih Makanan Bergizi untuk Keluarga Sehat,” peringatan HGN tahun ini diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memperhatikan kualitas gizi yang mereka konsumsi, serta memperkenalkan langkah-langkah praktis dalam mencapainya.
Guru Besar bidang Teknologi Pangan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, M.P. menyampaikan, “ini merupakan pesan penting dari Pemerintah agar kita semua harus memperhatikan kesehatan keluarga melalui pilihan makanan yang akan dikonsumsi. Kesehatan kita sangat ditentukan oleh apa yang kita makan, bahkan dalam jangka panjang, makanan yang dikonsumsi amat menentukan kondisi kesehatan, termasuk pertumbuhan dan perkembangan anak,” ucapnya.
Pentingnya pola makan sehat dan bergizi seimbang tidak dapat dipandang sebelah mata, mengingat banyaknya tantangan kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, seperti malnutrisi, obesitas, dan penyakit tidak menular. Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hampir 30% anak usia 5-12 tahun mengalami masalah gizi buruk atau kurang gizi, sementara angka obesitas pada dewasa juga terus meningkat.
Gizi seimbang adalah kunci untuk menjaga tubuh tetap sehat, bugar, dan memiliki energi yang cukup dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Makanan yang bergizi tidak hanya penting untuk pertumbuhan fisik, tetapi juga berperan penting dalam mendukung fungsi otak, meningkatkan daya tahan tubuh, dan menjaga kesehatan jangka panjang.
Senyampang dengan hal tersebut, Presiden Prabowo telah mencanangkan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dimulai sejak 6 Januari 2025. Pro-kontra pun bermunculan, bahkan ada provinsi yang menolak program tersebut karena dipandang kurang efektif. Menurut Ambar, “efektivitas program dapat diketahui jika datanya tersedia. Data yang diperlukan adalah status gizi sebelum dan setelah program berjalan, misalnya dalam 2 bulan ini, adakah peningkatan status gizi kelompok sasaran (anak didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita). Jika memang ada peningkatan status gizi, maka program dapat dikatakan berhasil,” jelasnya.
Namun, secara umum, memperhatikan program yang telah berjalan, nampaknya peningkatan status gizi sulit tercapai. “pemberian makanan yang hanya dilakukan sekali dalam sehari, tentunya belum dapat memenuhi kebutuhan gizi harian seseorang. Oleh karena itu, program MBG perlu ditinjau ulang efektivitasnya. Jangan sampai hanya menghabiskan anggaran negara, tetapi sasarannya tidak tercapai,” tegasnya.
Untuk memperingati Hari Gizi Nasional 2025, pemerintah juga mempromosikan Gerakan Gizi Seimbang yang melibatkan semua pihak, mulai dari masyarakat umum hingga pihak penyedia layanan kesehatan dan pendidikan. Diharapkan dengan adanya gerakan ini, masyarakat dapat lebih mudah memahami pentingnya memilih makanan yang bergizi dan memahami cara mengelola asupan gizi mereka dengan baik.
Kesehatan adalah aset yang sangat berharga, dan kita semua memiliki peran untuk mencapainya. Melalui pemahaman yang lebih baik tentang gizi seimbang, kita dapat memastikan bahwa generasi Indonesia yang akan datang tumbuh menjadi pribadi yang sehat, produktif, dan berkualitas. Mari kita semua berkomitmen untuk hidup sehat dengan pola makan yang bergizi, mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dengan langkah kecil namun konsisten, kita bisa menciptakan perubahan besar demi Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.