Menyambut awal bulan suci Ramadan ini, dosen-dosen Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta berbagi pandangan dan pemaknaan mereka tentang bulan penuh berkah ini, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun pendidikan. Ramadan tidak hanya dianggap sebagai waktu untuk beribadah, tetapi juga sebagai momentum untuk merenung, memperbaiki diri, dan mempererat hubungan antar sesama.
Sebagai Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Dra. Syakdiah, M.Si., menuturkan bahwa Ramadhan bukan hanya sekadar bulan ibadah, tetapi juga momen refleksi atas peran dalam mendidik dan membimbing mahasiswa. Puasa melatih kesabaran dan kedisiplinan yang mana merupakan dua nilai penting dalam dunia akademik. “Dalam suasana penuh berkah ini, Dosen dapat mengajarkan kepada mahasiswa tidak hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga etika, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin relevan dalam kehidupan sosial dan profesional mereka,” ujarnya.
Bagi Syakdiah, bulan suci ini juga memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai, baik secara personal maupun profesional. “Secara spiritual, peningkatan kualitas ibadah dan memperdalam pemahaman terhadap nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari merupakan tujuan utama yang ingin dicapai dalam bulan ini. Dari sisi akademik, bulan Ramadhan dapat menjadi momentum untuk merancang penelitian yang lebih bermanfaat bagi masyarakat atau menginisiasi kegiatan akademik yang mendukung nilai-nilai sosial dan kebersamaan,” jelasnya.
Begitu juga seperti yang disampaikan oleh Nisfatul Izzah, S.E., M.A., Dosen Fakultas Ekonomi (FE) ini menyampaikan bahwa manusia memiliki cita-cita sebagai insan kamil atau manusia baik yang tepat untuk diwujudkan saat bulan Ramadan dengan meningkatkan Habluminallah dan Habluminannas. Izzah juga menyampaikan perasaan empati bagi saudara muslim yang sedang berpuasa tetapi juga memiliki tanggung jawab tambahan seperti merawat kedua orang tua yang sudah tua, bahkan sakit, atau mengasuh anak usia belia hingga bayi yang butuh perhatian khususnya.
“Semoga akhir ramadhan ini kita semua dapat menggapai rahmat Allah SWT untuk menjalani kehidupan yang berkah, dan ke depan Ibadah kita tetap baik, yang tidak hanya selama Ramadan saja. Semoga kita semuanya dipertemukan depan Ramadan berikutnya dalam keadaan sehat beriman, berilmu, selamat dunia, dan akhirat, Aamiin,” harapnya.
Sejalan dengan bentuk keberkahan di bulan Ramadan, Nissa Clara Firsta, S.T.P., M.P., Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) menyampaikan bahwa pemaknaan puasa berada pada manfaat kesehatan yang diperoleh oleh tubuh yang diberikan kesempatan untuk beristirahat dan mengalami detoksifikasi alami. “Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat meningkatkan metabolisme tubuh, mendetoksifikasi sistem pencernaan, dan mengoptimalkan fungsi organ tubuh. Dalam konteks ilmu pangan, ini menjadi kesempatan untuk menggali lebih dalam mengenai asupan makanan yang seimbang selama Ramadan, serta bagaimana inovasi pangan dapat berperan dalam mendukung pola konsumsi yang sehat dan bernutrisi,” ucapnya.
Di era modern, banyak tantangan yang dihadapi dalam pemilihan makanan saat berbuka dan sahur. Banyak masyarakat masih cenderung memilih makanan yang tinggi gula dan lemak saat berbuka, sementara saat sahur sering kali mengonsumsi makanan yang kurang mengandung serat dan protein yang cukup.
“Penting untuk memberikan edukasi mengenai pemilihan makanan yang tepat, seperti mengonsumsi makanan yang kaya serat, protein, serta cairan yang cukup untuk menjaga keseimbangan energi selama berpuasa. Menu sahur yang baik sebaiknya mengandung karbohidrat kompleks, protein, dan lemak sehat agar energi bertahan lebih lama, sedangkan berbuka sebaiknya dimulai dengan makanan yang ringan seperti kurma dan air putih sebelum mengonsumsi makanan utama yang bernutrisi,” jelasnya.
Pemaknaan mengenai puasa atau bulan Ramadan juga disampaikan oleh Cunduk Wasiati, S.H., M.Hum., Dosen Fakultas Hukum (FH). Cunduk menyampaikan bahwa Puasa Ramadan menjadikan diri kita menjadi manusia yang sabar, bisa mengendalikan hawa nafsu dan menjadikan manusia untuk pandai bersyukur. Dengan berpuasa kita diuji untuk sabar dlm menghadapi situasi apapun. “Ketika kita sedang mengalami kesulitan ekonomi seperti saat ini, kita sebagai umat Islam bisa merasakan apa yang dialami oleh orang-orang yang ada dibawah kita, kita bisa mengendalikan amarah dan hawa nafsu, mempunyai jiwa sosial terhadap sesama, disiplin untuk meraih derajat keimanan dan kebahagiaan dunia dan akherat,” ucapnya.
Cunduk juga menyampaikan bahwa bulan Puasa yang penuh rahmat tahun ini merupakan moment yang tepat untuk mawas diri bagi kita sebagai bagian dari civitas akademika UWM, sekaligus memohon ampunan jika selama ini terdapat salah khilaf dalam melaksanakan kewajiban untuk lembaga. “Dengan momen ramadan ini mari kita civitas akademika UWM untuk berdoa memohon ridho dari Allah Tuhan Yang Maha Esa demi kemajuan dan kejayaan UWM. Sehingga setelah bulan Ramadan selain kita menjadi pribadi yang bertaqwa, juga bisa memohon ridho untuk kemajuan dan kekayaan lembaga UWM. Aamiin,” tutupnya.
Bagi para dosen UWM ini, Ramadan bukan hanya sebuah ibadah, tetapi juga sebuah kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri, memperkuat karakter, dan mempererat solidaritas sosial. Bulan suci ini mengajarkan banyak hal, mulai dari disiplin pribadi hingga pentingnya kepedulian terhadap orang lain. Semoga pemaknaan Ramadan ini dapat terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan dampak positif bagi mahasiswa dan masyarakat sekitar.