Dalam tata letak rumah gaya Jawa tradisional, pringgitan, yang berasal dari istilah anggitan atau pewayangan dalam Bahasa Jawa, merujuk pada tempat di mana pertunjukan wayang kulit diadakan. Biasanya, area ini hanya ditemukan di kediaman bangsawan atau istana yang digunakan oleh keluarga kerajaan. Pringgitan memiliki peran sehari-hari sebagai ruang peralihan untuk memasuki Dalem Ageng melalui pintu masuk yang disebut "longkang". Hal ini disampaikan oleh Desy Ayu Krisna Murti, S.T., M.Sc. yang merupakan dosen Program Studi (Prodi) Arsitektur Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Widya Mataram (UWM) pada Rabu (16/8) di Gedung FST UWM.
Di Dalem Mangkubumen, pringgitan ditempatkan di antara gedhong hinggil dan bangsal Proboyekso. Gedhong Hinggil terletak tepat di belakang Pendopo Ageng, dan peran penting ruang ini masih terus relevan hingga saat ini, saat Dalem Mangkubumen telah diubah fungsi menjadi sebuah universitas, yaitu UWM.
Lebih lanjut, Ketua Prodi (Kaprodi) Arsitektur ini mengungkapkan bahwa awalnya, Pringgitan di Dalem Mangkubumen difungsikan sebagai tempat untuk mengadakan pertunjukan wayang atau acara beksan yang dihadiri oleh keluarga Sultan Hamengkubuwono (HB) VII. Pada tahun 1982, peran bangunan ini berubah menjadi bagian dari UWM dan masih berfungsi demikian hingga saat ini. Bagian Pringgitan yang sebelumnya digunakan untuk pertunjukan, selanjutnya diubah menjadi kantor.
“Menurut catatan sejarah, tempat ini juga pernah menjadi lokasi pertemuan antara Sri Sultan HB IX, Presiden Soekarno, dan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru. Berdasarkan peristiwa sejarah tersebut, ruang Pringgitan di Dalem Mangkubumen juga dikenal sebagai ruang Soekarno-Nehru dan telah diakui sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi,” tegasnya.
Humas@UWM