Home
news
Dosen Arsitektur UWM Latih Siswa SD Membuat Eco-brick

Dosen Arsitektur UWM Latih Siswa SD Membuat Eco-brick

news Rabu, 2019-06-26 - 15:59:19 WIB

 

Sampai saat ini Indonesia tetap menghadapi persoalan besar dalam mengelola sampah. Volume sampah yang dihasilkan semakin banyak dan sebagian besar terdiri dari sampah yang tidak mudah terurai seperti plastik. Penggunaan botol plastik semakin marak di kalangan masyarakat, seakan sudah menjadi budaya untuk mengkonsumsi minuman dalam kemasan tersebut. Demikian disampaikan Nurina Vidya Ayuningtyas, S.T., M.Sc Dosen Prodi Arsitektur Universitas Widya Mataram (UWM) pada keterangan yang disampaikan Rabu (26/6/2019). 

“Dibalik itu terdapat fakta bahwa penggunaan botol plastik memiliki dampak yang sangat buruk terhadap residu lingkungan. Hal tersebut karena proses penguraian botol plastik bisa memakan waktu 450 sampai 1.000 tahun”, kata Nurina. 

Dalam memenuhi kewajiban Tridharma, menurut penjelasan Nurina dosen Prodi Arsitektur UWM mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa berupa pelatihan pembuatan eco-brick kepada anak-anak siswa SD kanisisus kembaran di Tamantirto, Bantul, Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya Nurina bersama dosen Prodi Arsitektur lainnya yakni Istiana Adianti, S.T., M.Sc. IAI dan dibantu Yoseph Diaz mahasiswa Arsitektur. 

Sementara Istiana menjelaskan cara menjaga bumi dari bidang Arsitektur dapat dilakukan dengan mendesain bangunan yang ramah lingkungan. Ramah lingkungan ini bisa didapatkan baik dari rancangan bangunannya ataupun penggunaan material yang digunakan dalam bangunan. Salah satu bahan material daur ulang yang dapat digunakan untuk bangunan adalah eco-brick atau bata ramah lingkungan. Bata ramah lingkungan berbeda dengan bata merah atau bata beton pada umumnya. Berbagai macam sampah seperti botol plastik, sachet/ plastik kemasan dijadikan satu dengan tahapan dan proses yang sesuai sehingga terpenuhi kualitasnya untuk dijadikan bahan rancangan ataupun bangunan. 

“Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi sampah plastik dan mendaur ulangnya dengan media botol plastik untuk dijadikan sesuatu yang berguna. Dengan pengaplikasian eco-brick ini diharapkan mampu mengurangi besaran jumlah sampah plastik dan botol minuman untuk kemudian dapat menjadi hal yang lebih bermanfaat serta mengedukasi masyarakat tentang bahaya sampah plastik dan memberikan pelatihan terkait pemanfaatan sampah plastik agar dapat berguna kembali”, ungkap Istiana sembari menjelaskan adanya pengenalan inovasi dan pelatihan pembuatan eco-brick ini diharapkan siswa-siswa atau anak-anak mulai sadar tentang kondisi lingkungan yang kian memburuk, sehingga para siswa mampu bertindak untuk menyelamatkan bumi dari jumlah sampah plastik yang semakin banyak. 

Nurina menerangkan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari Rabu pada Bulan Maret 2019 ini mendapat respon positif dari sswa-siswi SD Kanisius Kembaran. Antusiasme dan semangat murid-murid SD Kanisisus Kembaran Yogyakarta terlihat sangat baik. Materi dan proses pelaksanaan workshop mendapat tanggapan yang baik dari para peserta. Dengan hasil yang diperoleh dari workshop ini harapannya mampu mendidik generasi muda supaya peduli terhadap kondisi bumi dan lingkungan.

 

©HumasWidyaMataram


Share Berita