Yogyakarta kembali menunjukkan perannya sebagai poros nilai dan kebijaksanaan Nusantara melalui penyelenggaraan Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai yang berlangsung di Gedung Sasana Hinggil Dwi Abad, Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Minggu (26/10). Kegiatan yang dihadiri oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X ini diwarnai suasana hangat dan penuh makna, meski hujan mengguyur sejak pagi. Ribuan pasang mata tertuju pada figur pemimpin yang telah lama dikenal sebagai penyejuk bangsa, saat beliau hadir bersama para tokoh nasional, akademisi, seniman, budayawan, dan masyarakat lintas generasi untuk membangun gerakan moral dan intelektual yang berakar pada nilai-nilai kebudayaan.
Acara ini digagas oleh Forum Sambung Rasa Kebangsaan, sebuah wadah lintas generasi yang mempertemukan akal, nurani, dan kearifan budaya dalam upaya meneguhkan kembali peran kebudayaan sebagai dasar moral dan spiritual bangsa. Forum ini berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi bangsa yang dinilai tengah mengalami krisis nilai, karakter, dan keutuhan sosial. Melalui dialog ini, diharapkan muncul kembali kesadaran bersama bahwa kekuatan bangsa tidak semata bertumpu pada kekuasaan dan ekonomi, melainkan juga pada rasa, keadilan sosial, dan cinta tanah air yang tumbuh dari kebijaksanaan budaya.
Dalam sambutannya, Ketua Forum Sambung Rasa Kebangsaan, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec., mengungkapkan bahwa gagasan kegiatan ini lahir dari keinginan kuat masyarakat untuk melihat para pemimpin bangsa, khususnya Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir dan memberikan pencerahan di tengah berbagai persoalan kebangsaan.
“Kita melihat adanya harapan yang besar agar para tokoh bangsa kembali ke ruang publik, berbicara dari hati ke hati, dan menjadi sumber keteladanan moral di tengah riuhnya perbedaan,” ujar Prof. Edy. Ia menambahkan, pihaknya telah sowan ke Ngarsa Dalem untuk memohon kesediaan beliau berbicara dalam forum ini, dan Sultan berkenan hadir sebagai wujud kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Forum yang diikuti sekitar seratus peserta ini menghadirkan perwakilan dari berbagai unsur, antara lain Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kadipaten Pakualaman, Forkopimda DIY, pimpinan perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, seniman, budayawan, tokoh masyarakat, serta mahasiswa dan media massa.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Komjen Pol (Purn) Ahmad Dofiri, Basuki Hadimoeljono, Totok Daryanto (DPR RI), Butet Kartaredjasa, Soimah Pancawati, dan Rosiana Silalahi. Keberagaman latar belakang peserta memperlihatkan semangat kebersamaan untuk membangun dialog lintas generasi dan lintas pemikiran yang sehat dan terbuka.
Prof. Edy menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar diskusi, melainkan gerakan moral yang berupaya meneguhkan kembali tenun kebangsaan yang mulai kusut oleh perbedaan, ujaran kebencian, dan polarisasi sosial. Ia menilai bahwa krisis bangsa saat ini tidak hanya menyangkut politik dan ekonomi, tetapi juga krisis nilai, etika, dan rasa kebersamaan.
“Dialog seperti ini penting untuk mengembalikan akal sehat dan hati nurani bangsa. Membangun Indonesia tidak cukup dengan kekuasaan, tetapi harus disertai rasa, cinta tanah air, dan keadilan sosial,” ujarnya yang juga sebagai Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta ini.
Dalam kesempatan itu, Guru Besar Ilmu Ekonomi tersebut juga mengingatkan kembali peran besar Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai figur pemersatu bangsa. Sejak masa Reformasi 1998, kehadiran beliau melalui Pisowanan Agung dikenal mampu menenangkan situasi dan menumbuhkan semangat perubahan yang damai.
Karisma dan kewibawaan Ngarsa Dalem, menurutnya, telah melampaui batas wilayah Yogyakarta dan menjadi simbol moral yang disegani secara nasional. “Suara beliau selalu dinanti, karena menghadirkan kesejukan di tengah hiruk-pikuk perbedaan pendapat,” tambah mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia ini.
Lebih jauh, dialog ini juga menegaskan kembali pentingnya trilogi filosofi Keistimewaan DIY: Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula lan Gusti sebagai landasan etika dan spiritual dalam membangun kehidupan berbangsa yang damai dan berkeadaban.
Nilai Hamemayu Hayuning Bawana mengajarkan pentingnya merawat keharmonisan dan memperindah kehidupan bersama; Sangkan Paraning Dumadi mengingatkan manusia pada hakikat asal dan tujuan hidupnya; sementara Manunggaling Kawula lan Gusti menegaskan pentingnya harmoni antara pemimpin dan rakyat, negara dan masyarakat.
Dialog Kebangsaan untuk Indonesia Damai menjadi ruang reflektif dan sekaligus momentum kebangkitan kesadaran baru bahwa menjaga Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kolektif seluruh warga bangsa.
Dari Yogyakarta, pesan ini bergema: membangun negeri harus dimulai dari kearifan budaya, moralitas, dan kemanusiaan yang luhur. Dengan semangat Hamemayu Hayuning Bawana, Forum Sambung Rasa Kebangsaan diharapkan melahirkan energi baru untuk mewujudkan Indonesia yang damai, beradab, dan berkepribadian dalam kebudayaan.