Program SDGs (Sustainable Development Goals) merupakan program pengganti MDGs (Millenium Development Goals) yang telah berakhir pada tahun 2015. Hal ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Widya Mataram (UWM), Dr. AS Martadani Noor, M.A. sebagai narasumber dalam acara Seminar Nasional “Kebudayaan dalam Pembangunan Berkelanjutan” di Pendopo Agung Kampus Terpadu UWM pada Kamis (5/10/2023). Narasumber lain dalam acara ini adalah Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si. yang merupakan dosen Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) dan M. Taufiq Arrahman, S.I.P., M.P.A yang merupakan Perencana di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Acara ini diawali dengan sambutan Rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.
Lebih lanjut, Martadani mengemukakan bahwa pada umumnya, masyarakat Yogyakarta memiliki pandangan yang progresif terhadap pembangunan berkelanjutan atau sustainable development dan dapat berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya di daerah. “Pandangan masyarakat di Yogyakarta mengenai pembangunan berkelanjutan cenderung positif dan mendukung,” tambahnya.
Beberapa masyarakat yang terlibat dalam berbagai gerakan dan organisasi lingkungan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Masyarakat aktif dalam melakukan aksi-aksi penghijauan, kampanye pengurangan penggunaan plastik, dan pengelolaan sampah yang baik.
Sejumlah tantangan yang dihadapi dalam penerapan pembangunan berkelanjutan di Yogyakarta. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman dari sebagian masyarakat tentang pentingnya pembangunan berkelanjutan. “Selain itu, masalah kebijakan dan regulasi yang kurang jelas juga menjadi hambatan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan di daerah ini,” kata Martadani.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang pembangunan berkelanjutan, diperlukan upaya komunikasi dan edukasi yang lebih intensif dari pemerintah, institusi pendidikan, serta lembaga sosial dan budaya. “Ini dapat dilakukan melalui kampanye publik, pelatihan, seminar, dan lokakarya yang mengedukasi masyarakat tentang isu-isu lingkungan, pengelolaan sumber daya, dan praktik berkelanjutan,” tutupnya.
Humas@UWM