Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta menjadi tuan rumah kegiatan Sosialisasi Digital Marketing untuk UMKM yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa (20/10), di Auditorium Gedung Piwulangan, Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Peningkatan Kapasitas Pengguna Riset dan Inovasi. Sosialisasi menghadirkan Rizq Atika Maso, S.Kom., MSM, Analis Kebijakan Ahli Pertama pada Direktorat Kemitraan Riset dan Inovasi BRIN, sebagai narasumber. Materi yang diberikan mencakup alasan pentingnya digital marketing bagi UMKM, fundamental digital marketing, strategi membuat konten digital sederhana, hingga praktik pemasaran digital.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY. Esti Wijayanti, S.H., dalam sambutannya mengatakan, pemasaran digital merupakan keterampilan penting yang perlu dipelajari pelaku UMKM, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menuntut efisiensi biaya pemasaran. Ia menyoroti pentingnya pemanfaatan media sosial secara strategis, termasuk bagaimana memaksimalkan akun pribadi maupun media sosial tanpa selalu bergantung pada promosi berbayar.
“Dengan digital marketing untuk UMKM ini, tidak sederhana. Ada sesuatu yang harus kita pelajari, termasuk bagaimana memanfaatkan media sosial agar tidak selalu berbayar,” ujar Esti.
Ia mengajak peserta mengikuti sosialisasi secara serius karena narasumber yang hadir memiliki kompetensi di bidang digital marketing dan pemberdayaan UMKM.
Sementara itu, Wakil Rektor I UWM, Dr. Jumadi, S.E., M.M., mengatakan UMKM memiliki peran penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Menurutnya, perkembangan teknologi digital sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi pelaku UMKM, khususnya dalam memperluas pasar dan meningkatkan kemampuan pemasaran.
“Memproduksi itu gampang, tetapi memasarkan adalah sulit. Ada yang mengatakan, jangan menjual apa yang mampu dibuat, tetapi buatlah yang mampu dijual,” kata Jumadi.
Menurutnya, digital marketing membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memasarkan produk tanpa dibatasi ruang dan waktu. Pemanfaatan media sosial, marketplace, serta berbagai platform digital memungkinkan pelaku usaha membangun jejaring dengan calon konsumen sekaligus meningkatkan potensi transaksi.
“Nasib kita tidak lagi ditentukan oleh garis tangan, tetapi oleh teman-teman kita sendiri,” ujarnya, merujuk pada pentingnya membangun jaringan dan memanfaatkan koneksi di media sosial untuk mendukung aktivitas ekonomi.
Dalam paparannya, Rizq Atika menjelaskan bahwa digital marketing merupakan aktivitas pemasaran atau promosi produk dan jasa melalui media digital atau internet untuk menjangkau konsumen dan calon konsumen. Digital marketing dinilai memiliki sejumlah keunggulan, antara lain mampu menjangkau konsumen lebih luas, mudah diukur, lebih efisien dari sisi waktu dan biaya, lebih interaktif, serta membantu UMKM tetap relevan dan kompetitif.
BRIN juga menekankan bahwa strategi digital marketing tidak sebatas aktivitas mengunggah konten atau berjualan. Pelaku UMKM perlu memahami sales funnel yang mencakup traffic, conversion, dan relationship. Traffic diarahkan untuk mendatangkan pengunjung, conversion mengubah pengunjung menjadi pelanggan, sedangkan relationship bertujuan membangun hubungan dengan pelanggan agar terjadi pembelian ulang.
Selain itu, peserta dibekali pemahaman mengenai segmentasi pasar, penentuan Product Value Proposition (PVP) dan Unique Selling Point (USP), analisis kompetitor, pemilihan saluran media sosial yang sesuai dengan karakter target pasar, hingga pemanfaatan KOL, affiliate, live shopping, marketplace, dan aplikasi pesan untuk mendukung pemasaran.
Pada aspek produksi konten, BRIN memperkenalkan strategi sederhana dengan komposisi 80 persen konten edukasi atau hiburan dan 20 persen konten penjualan langsung. Peserta juga diperkenalkan dengan formula AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action) untuk menyusun konten yang mampu menarik perhatian, membangun ketertarikan, menciptakan keinginan, dan mendorong tindakan konsumen.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual, tetapi juga diarahkan untuk mempraktikkan penyusunan strategi digital marketing berdasarkan produk masing-masing, mulai dari menentukan keunggulan produk, target pasar, saluran digital, hingga membuat konsep konten menggunakan formula AIDA.