Oleh: Dr. Shulbi Muthi Sabila SP, S.I.Kom., M.I.Kom., Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
Setiap hari kita membuka media sosial dengan keyakinan bahwa kita sedang melihat dunia. Kita mengetahui berita terbaru, mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan, melihat kehidupan orang lain, hingga membentuk pendapat tentang berbagai persoalan. Semua terasa begitu alami, seolah-olah layar di tangan kita adalah jendela yang memperlihatkan realitas apa adanya.
Namun, benarkah demikian?
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lupa bahwa apa yang muncul di layar bukanlah keseluruhan dunia, melainkan dunia yang telah dipilihkan untuk kita. Ribuan bahkan jutaan informasi tersedia setiap detik, tetapi hanya sebagian kecil yang akhirnya muncul di beranda masing-masing pengguna. Pilihan itu bukan terjadi secara kebetulan. Ada sistem yang bekerja menentukan apa yang layak kita lihat, apa yang perlu diulang, dan apa yang perlahan menghilang dari perhatian.
Dalam perspektif ilmu komunikasi, media tidak pernah sekadar menjadi saluran penyampai informasi. Berger dan Luckmann melalui Social Construction of Reality menjelaskan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses interaksi yang berlangsung secara terus-menerus. Pada era digital, proses konstruksi tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh media massa, tetapi juga oleh platform digital melalui algoritma. Apa yang kita anggap sebagai kenyataan sesungguhnya merupakan hasil dari proses seleksi, pengulangan, dan distribusi informasi yang berlangsung setiap saat.
Fenomena ini dapat kita lihat dari pengalaman sehari-hari. Seseorang yang sering mencari informasi tentang investasi akan terus menerima konten mengenai saham, kripto, atau kebebasan finansial. Sementara pengguna lain yang lebih sering menonton konten parenting akan dipenuhi video tentang pola asuh, tumbuh kembang anak, atau pendidikan keluarga. Bahkan seseorang yang beberapa kali mencari informasi mengenai suatu penyakit akan mendapati linimasanya dipenuhi konten kesehatan. Padahal mereka menggunakan platform yang sama. Yang berbeda bukan aplikasinya, melainkan realitas digital yang dibangun untuk masing-masing pengguna.
Karakter media digital membuat proses tersebut berlangsung jauh lebih kompleks dibandingkan media konvensional. Lev Manovich melalui teori New Media menjelaskan bahwa media digital bekerja dengan prinsip otomatisasi, variabilitas, dan personalisasi. Informasi tidak lagi diproduksi untuk dikonsumsi secara seragam, tetapi disusun secara otomatis berdasarkan jejak digital setiap individu. Akibatnya, tidak ada lagi satu realitas media yang sama untuk semua orang. Setiap pengguna menerima versi dunianya sendiri.
Sekilas, mekanisme ini tampak menguntungkan karena membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa lebih relevan. Namun, di balik kenyamanan tersebut terdapat konsekuensi yang jarang disadari. Ketika seseorang hanya terus-menerus melihat informasi yang sejalan dengan minat dan keyakinannya, ruang pandangnya perlahan menjadi semakin sempit. Ia merasa telah melihat dunia secara utuh, padahal yang ia lihat hanyalah sebagian kecil realitas yang telah dipilihkan oleh sistem.
Marshall McLuhan melalui perspektif Media Ecology mengingatkan bahwa media bukan hanya alat penyampai pesan, tetapi lingkungan yang membentuk cara manusia berpikir, merasakan, dan berinteraksi. Pernyataannya, the medium is the message, menunjukkan bahwa pengaruh terbesar media sering kali tidak terletak pada isi pesannya, melainkan pada bagaimana media mengubah kebiasaan manusia dalam memahami dunia.
Kondisi tersebut semakin terlihat ketika sebuah isu menjadi viral. Selama beberapa hari, linimasa dipenuhi oleh satu kasus sehingga seolah-olah tidak ada persoalan lain yang lebih penting. Padahal, pada saat yang sama mungkin sedang berlangsung pembahasan kebijakan publik, persoalan kemiskinan, perubahan iklim, atau isu pendidikan yang dampaknya jauh lebih besar, tetapi tidak memperoleh perhatian yang sama. Dalam ruang digital, sesuatu sering kali dianggap penting bukan karena dampaknya paling besar, melainkan karena paling sering muncul di hadapan kita.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teori Agenda Setting tetap relevan pada era digital. Jika dahulu media massa menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat, kini fungsi tersebut diperkuat oleh algoritma yang bekerja secara personal. Agenda publik tidak lagi dibentuk melalui satu halaman depan surat kabar atau satu siaran berita malam, tetapi melalui jutaan feed yang disusun berbeda untuk setiap pengguna.
Tidak berhenti pada penentuan isu, media digital juga membentuk cara suatu peristiwa dimaknai. Melalui proses framing, sebuah peristiwa dapat dipahami sebagai keberhasilan, ancaman, kegagalan, atau bahkan hiburan, bergantung pada bagaimana ia disajikan. Demonstrasi, misalnya, dapat dipandang sebagai bentuk perjuangan masyarakat ketika media menonjolkan aspirasi para pesertanya. Namun, demonstrasi yang sama dapat dipersepsikan sebagai gangguan ketertiban apabila pemberitaan lebih banyak menampilkan kemacetan, bentrokan, atau kerusakan fasilitas umum. Peristiwanya tetap sama, tetapi makna yang diterima masyarakat dapat berbeda.
Hal serupa juga terjadi pada kehidupan sehari-hari di media sosial. Ketika linimasa dipenuhi konten rumah estetik, tubuh ideal, karier yang terus menanjak, atau liburan ke berbagai tempat, perlahan standar mengenai kehidupan yang dianggap "normal" ikut berubah. Banyak orang mulai membandingkan dirinya dengan kehidupan yang sebenarnya telah melalui proses seleksi, penyuntingan, bahkan rekayasa visual. Tanpa disadari, media tidak lagi sekadar merepresentasikan realitas, tetapi juga membentuk ekspektasi masyarakat terhadap realitas itu sendiri.
Karena itu, tantangan terbesar masyarakat digital saat ini bukan hanya membedakan informasi yang benar dan salah. Tantangan yang lebih mendasar adalah menyadari bahwa realitas yang hadir di layar merupakan hasil dari proses komunikasi yang kompleks: seleksi, personalisasi, pembingkaian, dan pengulangan. Semakin tidak disadari proses tersebut, semakin besar kemungkinan kita menganggap konstruksi media sebagai kenyataan yang sepenuhnya objektif.
Pada akhirnya, algoritma mungkin tidak dapat menentukan apa yang harus kita yakini. Namun, ia memiliki kemampuan yang jauh lebih halus: menentukan apa yang pertama kali menarik perhatian kita. Dan dalam dunia yang dipenuhi informasi, apa yang paling sering kita lihat perlahan akan membentuk apa yang kita anggap sebagai kenyataan.