Perempuan Indonesia harus banyak berperan, baik di kancah nasional maupun internasional. Saat ini perempuan telah menekuni profesi di berbagai bidang. Demikian diungkapkan oleh GKR Hemas, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada acara Diskusi dan Silaturahmi dengan tema Agama, Perempuan, dan Peradaban yang Berkeadilan di Pendopo Agung nDalem Mangkubumen, Universitas Widya Mataram (UWM) pada Rabu (8/3).
Narasumber dalam acara tersebut adalah Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, pakar filologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Prof. Dr. H. M. Machasin yang merupakan Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini juga turut dihadiri oleh Rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.
Dalam sambutannya, GKR Hemas menyampaikan bahwa telah banyak diskusi yang dilaksanakan, terutama yang berkaitan dengan situasi dunia dan dampaknya terhadap Indonesia, yaitu adanya konflik di Suriah, Libanon, Afganistan dsb. “Perempuan terus dibatasi kiprahnya, sangat berbeda dengan situasi Afganistan tahun 1970-an,” katanya.
Lebih lanjut, GKR Hemas mengungkapkan bahwa Indonesia juga mengalami politisasi agama, yang menjauhkan nilai-nilai luhur dan juga nilai-nilai agama yang membawa rasa damai dan nyaman. “Agama mengajarkan hal-hal yang baik, dan budaya kita juga memiliki nilai-nilai yang baik, misalnya di Jogja dengan Hayuning Bawono,” tambahnya.
Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin agama banyak berperan melawan kolonial asing, dan juga menghasilkan Pancasila, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 serta Bhinneka Tunggal Ika. Para pemimpin agama baik dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan tokoh-tokoh lainnya, yang berbeda suku, etnis, kewilayahan, dan gender tetapi tetap bersatu.
Perempuan, saat ini, telah ada dalam berbagai profesi, termasuk kabinet dan anggota parlemen. Perempuan Indonesia tidak pernah tertinggal dari perempuan-perempuan lain di dunia, dan telah banyak yang kerpirah di kancah internasional.
Perempuan harus berperan dalam rumah tangga, harus duduk bersama, dan harus hadir. “Perempuan harus memiliki daya tawar yang kuat,” tegasnya.
Di akhir sambutannya, GKR Hemas menyampaikan bahwa perempuan Indonesia harus menjadi inspirasi dalam mengelola keberagaman.
Selamat Hari Perempuan Internasional!
Humas@UWM