Home
news
Merespon Kasus Kekerasan dalam Pacaran, Dosen FH UWM Lakukan Penguatan Kesehatan Mental Remaja

Merespon Kasus Kekerasan dalam Pacaran, Dosen FH UWM Lakukan Penguatan Kesehatan Mental Remaja

news Senin, 2020-08-03 - 13:19:00 WIB

Banyak kasus Kekerasan dalam Pacaran (KDP) yang menimpa anak usia remaja, salah satunya dalam bentuk revenge porn yakni menyebarkan konten pribadi yang mengandung unsur pornografi tanpa sepengetahuan atau seizin pemilik. Fenomena ini telah marak terjadi di media sosial yang menyalahgunakan media teknologi informasi.

Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Widya Mataram (UWM), Laili Nur Anisah, SH., MH merespon keadaan tersebut dengan melakukan penguatan kesehatan mental remaja. Implementasinya, penguatan ditujukan bagi siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Klaten pada Sabtu, 29 Februari 2020 lalu. Hal itu sebagai salah satu wujud Pengabdian kepada Masyarakat yang harus dilakukan oleh dosen. Laili mengatakan, teori yang bisa digunakan untuk meneliti terjadinya revenge porn yakni teori kontrol yang melihat adanya 2 faktor penyebab terjadinya tindak pidana pada juvinile (remaja). Pertama, adanya dorongan, dan kedua, adanya tarikan.

“Remaja yang menjadi korban tindak pidana lebih sering melakukan pencarian jati diri dengan pengakuan atau afirmasi dari lingkungan sekitar,” kata Laili, Senin (3/8/2020). Kepribadian remaja yang dapat diobservasi seperti gelisah sepanjang waktu, minder, pemalu, anak rumahan, negative thinking, merasa dikucilkan, suka menyendiri, individual, dan tidak asertif

Eksistensi remaja bertumpu pada peer group. Menurut Laili, remaja terdorong oleh keinginan diterima lingkungan, sehingga dia bisa melakukan apa saja untuk masuk dalam sebuah peer group atau orang yang dia percayai. Tidak jarang keinginan tersebut memicu tindak pidana, termasuk revenge porn. Revenge porn terjadi selain karena adanya kesempatan, juga adanya konsep diri yang negatif atau rendah diri dari remaja. Remaja dengan konsep diri yang demikian membutuhkan orang lain untuk mengafirmasi tindakan dan penampilannya.

“Tindakan afirmasi tersebut berupa tindakan dengan mengirimkan konten pribadi pada pasangan atau orang yang baru dikenal di dunia maya. Setelah tidak ada hubungan lagi, maka konten pribadi tersebut dapat digunakan untuk memanipulasi korban agar pelaku kekerasan mendapatkan keinginannya,” kata Laili.

Kekerasan dalam pacaran ini, lanjut Laili, bisa diminimalisir dengan persahabatan diantara teman sebaya. Motode ini memiliki kecenderungan bercerita pada teman sebaya sehingga remaja bisa saling menjaga diri dan meningkatkan konsep diri yang positif. Pengabdian kepada Masyarakat ini merupakan proyek kerjasama dari tiga lembaga, yakni UWM, Komunitas Sareng dan Fakultas Psikologi Widya Dharma Klaten.

©HumasWidyaMataram


Share Berita