Home
news
Menghadapi Era Society 5.0, Perguruan Tinggi Harus Ambil Peran

Menghadapi Era Society 5.0, Perguruan Tinggi Harus Ambil Peran


Rabu, 2020-11-25 - 14:49:25 WIB

Perguruan Tinggi (PT) harus mengambil peran dalam menyiapkan lulusannya agar kompeten dan mampu memasuki lapangan kerja yang dibutuhkan dunia saat ini. Bidang pendidikan harus direvolusi dan berorientasi pada pembelajaran yang lebih modern. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai narasumber dalam Webinar Nasional Kampus Merdeka-Merdeka Belajar yang digelar Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Lamongan melalui Zoom Video Conference pada Rabu (25/11/2020) dan diikuti peserta tak kurang dari 430 orang.

Webinar nasional yang bertema Menakar Kesiapan SDM Indonesia dalam Menghadapi Society 5.0 itu juga menghadirkan narasumber lain diantaranya Prof. Dr. Aris Junaidi (Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswa Dirjen Kemendikbud), Budiman Sudjatmiko M.Sc., M.Phil. (Founder Inovator 4.0 Indonesia dan Penulis Buku Anak-anak Revolusi), dan Diah Puspitasari, S.Sos (Pegiat Kesetaraan Gender dan Penggagas Kampus Ramah Perempuan).

Rektor UWM tersebut mengatakan, berdasarkan riset World Economic Forum (WEF) 2020, terdapat 10 kemampuan utama yang paling dibutuhkan untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, yaitu bisa memecahkan masalah yang komplek, berpikir kritis, kreatif, kemampuan memanajemen manusia, bisa berkoordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, kemampuan menilai dan mengambil keputusan, berorientasi mengedepankan pelayanan, kemampuan negosiasi, serta fleksibilitas kognitif. 10 Kemampuan ini juga relevan dalam menghadapi Society 5.0.

“Society 5.0 dibuat sebagai solusi dari Revolusi 4.0 yang ditakutkan akan mendegradasi umat manusia dan karakter manusia. Di era Society 5.0 ini nilai karakter harus dikembangkan, empati dan toleransi harus dipupuk seiring dengan perkembangan kompetensi yang berfikir kritis, inovatif, dan kreatif. Society 5.0 bertujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik menjadi satu sehingga semua hal menjadi mudah dengan dilengkapi artificial intelegent,” terang Prof. Edy Wakil Ketua Majelis Diklitbang PP Muhammadiyah itu.

Menurut Anggota Parampara Praja Pemda DIY itu, pada Era Society 5.0 pekerjaan dan aktivitas manusia akan difokuskan pada Human-Centered yang berbasis pada teknologi. Namun, jika manusia tidak mengikuti perkembangan teknologi dan pengetahuan maka Society 5.0 masih sama saja dengan era disrupsi yang seperti pisau bermata dua. Pada satu sisi dapat menghilangkan lapangan kerja yang telah ada, namun juga mampu menciptakan lapangan kerja baru.

Langkah yang seharusnya dilakukan dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia selain memperkuat kualitas pendidikan dan kompetensi bagi mahasiswa, campur tangan dari berbagai pihak sangat diperlukan. Dalam menyiapkan SDM unggul dan bersaing di era Society 5.0 akan sulit jika hanya mengandalkan lembaga pendidikan saja. Elemen masyarakat dan pemangku kepentingan harus terlibat didalamnya mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi nirlaba, dan masyarakat.

“SDM Indonesia harus meningkatkan kualitasnya dan selalu untuk melakukan inovasi-inovasi sehingga melahirkan berbagai kreasi yang memberikan kontribusi bagi kemajuan lingkungan dan masyarakat umumnya. Saat ini inovasi adalah suatu keniscayaan, sehingga sering dikumandangkan adagium innovate or die,” tegas Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) periode 2008-2009 itu.

Sementara itu, Prof. Aris menyampaikan, Society 5.0 merupakan A New Humanism yang menawarkan model baru untuk pemecahan persoalan sosial untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Era Society 5.0 dan pandemi Covid-19 juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan untuk bisa bertahan, sehingga dari pemerintah sendiri memunculkan berbagai strategi dan metode sebagai respon atas kondisi itu.

“Mahasiswa abad 21 harus dibekali dengan keahlian-keahlian tertentu yang terpilah menjadi 3 bagian yakni literasi dasar, kompetensi, dan karakter yang seluruhnya terdiri dari 16 keahlian,” sebut Prof. Aris. Menurutnya, program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka salah satunya memberikan kebebasan kepada mahasiswa untuk menambah keterampilan melalui 8 aktivitas.

Menghadapi society 5.0 dan pandemi Covid-19, lanjut Prof Aris, Dikti juga memberikan berbagai dukungan kepada dunia pendidikan dengan menyediakan platform untuk pembelajaran daring, bekerjasama dengan provider telekomunikasi untuk mengupayakan biaya internet terjangkau, memberikan kesempatan untuk menyelenggarakan program pengakuan kredit antara universitas melalui pembelajaran daring. Dikti juga terus memberikan pelatihan kepada dosen agar mampu menciptakan materi pembelajaran daring secara berkelanjutan. Di samping itu dukungan dikti juga dengan memanfaatkan Massive Open Online Course/MOOC’s internasional.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita