Oleh: Sabina Maulida Yasmin, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
Pernah nggak sih kamu kepikiran, sebenarnya kita sekolah itu buat apa? Dari kecil sampai sekarang, tiap hari kita belajar, ngerjain tugas, dikejar nilai, bahkan kadang sampai stres sendiri. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ujungnya cuma buat lulus dan lanjut ke tahap berikutnya. Menurut saya, ini pertanyaan yang penting banget buat direnungkan, karena masih banyak orang yang ngerasa sekolah itu cuma rutinitas, bukan tempat buat benar-benar memahami kehidupan.
Selama ini, sekolah lebih banyak mendorong kita buat fokus ke nilai akademik. Kita dituntut buat hafalin materi, ngerjain soal, dan dapet nilai setinggi mungkin. Bahkan nggak jarang kita belajar mati-matian cuma buat ujian. Tapi setelah ujian selesai, materi yang dipelajari perlahan hilang begitu aja. Jadi seperti belajar cuma buat sementara, bukan buat dipahami dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini saya ngerasa, ada sesuatu yang kurang dari sistem pendidikan yang kita jalani.
Menurut saya, sekolah seharusnya tidak hanya ngajarin teori, tapi juga keahlian hidup. Hal-hal kayak cara komunikasi yang baik, kerja sama dengan orang lain, mengatur emosi, sampai cara mengambil keputusan itu penting banget. Justru di dunia nyata, kemampuan seperti itu yang sering dipakai. Tapi kenyataannya, hal-hal ini jarang banget jadi fokus utama di sekolah. Kita lebih sering diajarin rumus dan teori, tapi nggak diajarin gimana cara menghadapi kehidupan.
Kalau ngomongin suasana belajar di kelas, jujur aja kadang terasa membosankan. Duduk, dengerin guru, mencatat pelajaran, lalu pulang. Polanya hampir selalu sama. Padahal, setiap orang punya cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang lebih suka diskusi, ada yang lebih paham kalau praktik langsung. Menurut saya, kalau pembelajaran dibuat lebih interaktif, misalnya lewat diskusi kelompok, presentasi, atau bahas kasus nyata, pasti siswa jadi lebih aktif. Belajar juga tidak terasa kayak beban, tapi lebih ke pengalaman yang seru.
Di zaman sekarang, kita juga nggak bisa lepas dari teknologi. Semua informasi bisa diakses dengan mudah lewat internet. Ini sebenarnya peluang besar buat pendidikan jadi lebih berkembang. Kita bisa belajar dari mana aja, kapan aja. Tapi di sisi lain, teknologi juga sering jadi distraksi. Bukannya belajar, malah kebanyakan scroll media sosial atau nonton hal yang nggak penting. Jadi menurut saya, sangat penting untuk kita bisa mengontrol diri dalam menggunakan teknologi.
Masalah pendidikan itu bukan cuma soal kurikulum atau fasilitas, tapi juga soal mindset. Kalau kita nganggep sekolah cuma sebagai kewajiban, pasti rasanya berat dan membosankan. Tapi kalau kita lihat sebagai kesempatan buat berkembang, belajar jadi terasa lebih ringan. Cara kita memandang pendidikan itu ternyata punya pengaruh besar terhadap semangat belajar kita.
Selain itu, kita menyadari jika pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya merata. Di kota besar, fasilitas sekolah mungkin sudah lengkap. Tapi di daerah lain, masih banyak yang kekurangan, baik dari segi sarana maupun tenaga pengajar. Hal ini jelas jadi tantangan besar, karena semua orang seharusnya punya kesempatan yang sama buat mendapatkan pendidikan yang layak.
Tidak hanya mengenai ilmu, sekolah juga harus lebih fokus pada pembentukan karakter. Percuma kalau pintar secara akademik tapi sikapnya kurang baik. Di dunia nyata, sikap itu penting banget. Orang yang jujur, disiplin, dan bertanggung jawab biasanya lebih dihargai. Bahkan kadang, sikap yang baik bisa lebih menentukan kesuksesan dibanding nilai.
Akhirnya, pendidikan memang perlu perubahan. Nggak cuma dari sistemnya, tapi juga dari cara kita memandangnya. Sekolah seharusnya nggak cuma jadi tempat buat cari nilai, tapi juga tempat buat belajar memahami kehidupan. Tempat kita berkembang, belajar dari kesalahan, dan mempersiapkan diri buat dunia nyata yang penuh tantangan.
Jadi sekarang, coba deh kita pikirin lagi: selama ini kita belajar buat benar-benar siap hidup, atau cuma biar lulus dan dapet nilai bagus aja?