Home
news
Pemanfaatan Budaya sebagai Sumber Ekonomi Kreatif di Era Digital

Pemanfaatan Budaya sebagai Sumber Ekonomi Kreatif di Era Digital

news Jumat, 2025-11-28 - 09:05:07 WIB

Pemanfaatan Budaya sebagai Sumber Ekonomi Kreatif di Era Digital

Kekayaan budaya Indonesia dinilai memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara kreatif dan relevan dengan perkembangan teknologi. Pandangan tersebut disampaikan oleh Dr. Siska Ernawati Fatimah, CMA., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Swadaya Gunung Jati, dalam pemaparan berjudul “Budaya Jadi Cuan: Kreativitas Anak Muda di Era Digital” yang disampaikan pada Webinar Nasional bertema “Peran Generasi Muda dalam Inovasi Bisnis Berbasis Budaya” oleh Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta pada Senin (24/11).

Dalam penjelasannya, Dr. Siska menekankan bahwa Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya yang sangat luas, di mana setiap daerah memiliki identitas dan narasi tersendiri. Menurutnya, karakter budaya yang unik tersebut dapat menjadi keunggulan kompetitif apabila dipadukan dengan inovasi serta strategi digital yang tepat.

“Produk berbasis budaya memiliki kekuatan emosional dan nilai historis yang tidak dimiliki produk massal. Keaslian ini merupakan modal penting untuk memasuki pasar lokal maupun global,” ujarnya.

Dr. Siska memaparkan bahwa elemen budaya dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif, mulai dari fesyen, kuliner, konten digital, hingga pariwisata berbasis pengalaman. Ia menguraikan sejumlah contoh pengembangan, seperti batik streetwear, tenun modern, hingga karakter ilustrasi yang mengangkat cerita rakyat Nusantara.

Menurutnya, modernisasi budaya tidak berarti menghilangkan nilai tradisional, melainkan menempatkan elemen budaya dalam konteks baru yang dapat diterima generasi masa kini. “Inovasi adalah jembatan antara nilai tradisi dan kebutuhan modern. Dengan cara itu, budaya tetap relevan dan terus hidup,” katanya.

Lebih lanjut, Dr. Siska menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital menghadirkan peluang luas bagi anak muda untuk mempromosikan produk kreatif berbasis budaya. Media sosial, marketplace, dan kolaborasi kreatif disebut sebagai alat yang efektif untuk meningkatkan visibilitas dan penetrasi pasar.

Ia menekankan pentingnya pemanfaatan konten visual, storytelling, serta strategi pemasaran berbasis platform digital. “Teknologi memberikan ruang tanpa batas. Generasi muda dapat membangun brand budaya hanya melalui gawai,” jelasnya.

Meski memiliki potensi besar, Dr. Siska menggarisbawahi adanya tantangan dalam pengembangan kreativitas berbasis budaya, termasuk risiko salah interpretasi, pelanggaran etika budaya, dan kemungkinan hilangnya nilai asli akibat komodifikasi.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, ia mendorong para pelaku kreatif melakukan riset mendalam, berdialog dengan tokoh adat, dan bekerja sama dengan pengrajin tradisional. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keaslian serta memastikan bahwa pemanfaatan budaya memberikan manfaat balik bagi komunitas asalnya.

Dalam pemaparannya, Dr. Siska juga menyinggung sejumlah pelaku usaha yang sukses mengembangkan produk budaya ke ranah global, seperti Javara, Du’Anyam, dan Batik Culture Streetwear. Ia menilai keberhasilan mereka menunjukkan bahwa kreativitas berbasis kearifan lokal dapat tumbuh menjadi industri yang memiliki daya saing tinggi.

Menutup sesi penyampaian, Dr. Siska mendorong mahasiswa untuk mulai mengeksplorasi budaya di lingkungan sekitar sebagai langkah awal menuju pengembangan ekonomi kreatif. Ia menyarankan berbagai langkah praktis seperti memulai proyek skala kecil, membangun portofolio, mengikuti kompetisi kreatif, serta mempelajari pemasaran digital.

“Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan dampak besar. Mulailah dari budaya terdekat dan jadikan kreativitas sebagai sarana untuk membawa identitas Indonesia ke tingkat global,” pungkasnya.


Share Berita