Home
news
Cultural Business 3.0: Integrasi Budaya, Digitalisasi, dan Daya Saing Global

Cultural Business 3.0: Integrasi Budaya, Digitalisasi, dan Daya Saing Global

news Jumat, 2025-11-28 - 09:03:47 WIB

Paradigma baru bisnis berbasis budaya menjadi sorotan dalam webinar berjudul “Cultural Business 3.0: Perspektif Akuntansi dan Global” yang disampaikan oleh Wulan Dari, M.Acc., AWP., M.A. pada Senin (24/11). Materi ini merupakan penyelenggaraan Webinar Nasional bertema “Peran Generasi Muda dalam Inovasi Bisnis Berbasis Budaya” oleh Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta. Kegiatan tersebut mengulas bagaimana bisnis yang berakar pada budaya lokal kini memasuki fase baru yang lebih adaptif terhadap digitalisasi, keberlanjutan, dan tuntutan pasar global.

Dalam pemaparannya, Wulan Dari menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi strategi bisnis yang mampu menghadirkan nilai tambah, identitas, serta keunikan yang tidak dapat ditiru. Mengutip perspektif Hofstede, ia menekankan bahwa budaya merupakan collective programming of the mind yang membentuk cara pandang dan perilaku suatu kelompok. “Culture is not what we inherit, it’s what we create every day,” ujarnya.

Konsep Cultural Business 3.0 dijelaskan sebagai evolusi dari model bisnis budaya tradisional menuju era digital yang menekankan branding, storytelling, dan pemasaran melalui platform seperti Instagram, marketplace, dan media sosial lainnya. Bahkan, perkembangan menuju Cultural Business 4.0 mulai mengintegrasikan prinsip ESG, akuntansi hijau, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan untuk keberlanjutan usaha.

Berbagai contoh monetisasi budaya turut dipaparkan, mulai dari batik yang telah merambah lebih dari 50 negara, hingga homestay budaya di Yogyakarta yang mencatat tingkat okupansi mencapai 70%. Tren digitalisasi juga mendorong usaha tradisional seperti angkringan untuk naik kelas melalui layanan pesan antar, yang terbukti mampu meningkatkan omzet hingga 3–5 kali lipat.

Wulan Dari juga menyoroti fenomena convenience economy yang kini semakin dominan, di mana 43 persen konsumen bersedia membayar lebih demi aspek kemudahan. Hal ini membuka peluang inovasi dalam sektor transportasi daring, pembayaran digital, hingga aplikasi pertanian berbasis teknologi.

Selain itu, kuliah umum ini menguraikan bagaimana budaya dapat menjadi daya saing (competitive advantage) dalam persaingan internasional. Produk berbasis budaya mulai dari kerajinan, kuliner, hingga arsitektur dinilai memiliki nilai autentik yang dicari wisatawan global, terlebih di tengah pertumbuhan industri pariwisata Yogyakarta yang mencapai 12 persen per tahun.

Melalui analisis komparatif antara budaya anak muda Indonesia dan Jerman, Wulan Dari menegaskan perlunya adaptasi bisnis terhadap nilai dan gaya hidup global tanpa meninggalkan akar budaya lokal. Dari minat fashion hingga kepedulian lingkungan, perbedaan perilaku konsumen dinilai membuka ruang inovasi produk kreatif lintas negara.

Dalam penutupnya, Wulan Dari mengajak mahasiswa dan pelaku usaha untuk berani mengintegrasikan budaya sebagai fondasi strategi bisnis. “Budaya bukan sekadar warisan, tetapi competitive advantage. Tugas kita adalah menciptakan budaya setiap hari dan menjadikannya kekuatan dalam menghadapi pasar global,” tegasnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai transformasi bisnis budaya dan mendorong lahirnya inovasi baru yang selaras dengan perkembangan ekonomi kreatif dan tantangan era digital.


Share Berita