“Komunikasi politik merupakan setiap penyampaian pesan yang disusun secara sengaja untuk mendapatkan pengaruh atas penyebaran atau penggunaan kuasa didalam masyarakat yang didalamnya mengandung 4 bentuk komunikasi yaitu elite communication, hegemonic communication, petitionary communication, associational communication.” Hal ini disampaikan oleh Prof. Dr. Lely Arrianie, M.Si. yang merupakan Guru Besar Komunikasi Politik LSPR Institute Communication and Business dalam acara Kuliah Umum Interaktif yang diselenggarakan pada Rabu (30/4) di Ruang Auditorium Gedung Piwulangan Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Banyuraden, Gamping, Sleman.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menjadi penyelenggara Kuliah Umum Interaktif kali ini dengan tema Perang Dagang Global dan Peran Komunikasi Politik yang diikuti lebih dari 100 civitas akademik UWM ini diawali dengan keynote speech dari Rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. Acara ini turut dihadiri oleh para Wakil Rektor, Dekan, Wakil Dekan, dan Ketua Program Studi.
Dalam paparannya berjudul “Quo Vadis Perang Tarif Global?”, Prof. Edy memaparkan analisis mendalam terkait dinamika kebijakan ekonomi global, khususnya kebijakan tarif timbal balik yang diterapkan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Menurut Prof. Edy, meskipun saat ini belum terjadi perang tarif global secara penuh, kebijakan sepihak yang menaikkan tarif impor terhadap sejumlah negara mitra dagang telah menimbulkan ketegangan serius di tingkat global.
“Kebijakan tarif balasan yang dilakukan oleh AS terhadap mitra dagangnya, khususnya Tiongkok, telah memunculkan ketidakpastian global, mengganggu stabilitas pasar keuangan, serta berpotensi melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia. Ini bukan hanya menyasar dua negara besar, tetapi juga berdampak sistemik pada negara-negara berkembang seperti Indonesia,” ujar Ketua Forum Rektor Indonesia 2008-2009 ini.
Ia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia bukan target utama dalam kebijakan tersebut, efek domino dari menurunnya permintaan global serta meningkatnya harga produk ekspor dapat menimbulkan ancaman terhadap neraca perdagangan nasional dan sektor industri padat karya. Sektor-sektor seperti tekstil, alas kaki, hingga mesin-mesin industri listrik menjadi rentan terdampak, yang pada akhirnya dapat memicu pengurangan tenaga kerja dan pelemahan kontribusi terhadap PDB nasional.
Prof. Edy mengungkapkan bahwa saat ini belum terjadi perang tarif global. “Misalnya intra ASEAN, terjadi saling meningkatkan tarif bea masuknya. Bahkan kerja sama yang ada cenderung untuk saling menurunkan dan menghapuskan tarif bea masuknya untuk produk ASEAN. Skim ASEAN Economic Community, justru mengarahkan bukan saja sekedar meminimalkan tarif bea masuk, namun mengarahkan mengintegrasikan ekonomi ASEAN ini,” kata Ketua Forum Rektor Indonesia 2008-2009 ini.
“Pasar Indonesia untuk barang dan jasa cukup luas. Penduduk yang lebih 275 juta selalu dilirik oleh produsen luar negeri. Untuk itu, pemain-pemain lokal sebaiknya juga menggarap serius pasar lokal ini. Bagaimana misalnya tekstil dan juga produk-produk alas kaki, misalnya, kita memanfaatkan pasar lokal yang sangat besar,” tegas Guru Besar Ilmu Ekonomi ini.
Lebih lanjut, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia 2011-2015 ini juga menyoroti perlunya diversifikasi pasar ekspor Indonesia agar tidak terlalu bergantung pada mitra dagang utama seperti AS dan China. Ia mendorong penguatan perdagangan dengan negara-negara non-tradisional di Asia, Afrika, dan Timur Tengah sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Dalam sesi kedua, Prof. Dr. Lely Arrianie mengupas tema “Kompetensi Komunikasi Politik Elite di Tengah Pertarungan Ekonomi Global”. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa komunikasi politik memegang peranan krusial dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk perang dagang dan ketegangan geopolitik.
Mengacu pada teori komunikasi politik dari Almond and Powell serta kerangka sistemik Plano, Prof. Lely menyatakan bahwa komunikasi politik merupakan bagian esensial dari fungsi sistem politik dan menjadi prasyarat berjalannya fungsi-fungsi politik lainnya seperti artikulasi, sosialisasi, hingga rekrutmen.
“Komunikasi elite bukan hanya soal retorika atau bahasa politik semata. Tetapi menyangkut tiga hal utama, yaitu substansi informasi yang disampaikan, konteks atau setting komunikasi, serta fungsi komunikasi tersebut dalam membentuk persepsi publik dan memengaruhi kebijakan,” jelas Prof. Lely.
Prof. Lely mengungkapkan bahwa komunikasi politik memiliki beberapa prinsip antara lain bahwa setiap perilaku memiliki komunikasi, kemudian komunikasi memiliki dimensi isi dan hubungan, serta komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan.
“Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu, melibatkan prediksi peserta komunikasi, bersifat sistemik, dan semakin mirip latar belakang sosial budaya maka semakin efektif komunikasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof. Lely menyebutkan bahwa komunikasi bersifat nonkonsekuensial, prosesual, dinamis, dan transaksional, serta bersifat irreversible. “Komunikasi politik bukan tentang bahasa politik saja, tetapi dilihat dari substansi informasi yang dihadirkan, setting dimana informasi yang disebarkan, dan fungsi yang dijalankan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa dalam konteks perang dagang global, elite politik dan pemangku kebijakan harus mampu membangun komunikasi yang transparan, terencana, dan strategis untuk menjaga stabilitas nasional serta kepercayaan publik. Prinsip-prinsip komunikasi politik seperti bersifat simbolik, sistemik, dan dinamis, harus diterapkan dalam pengambilan keputusan di tengah ketidakpastian global.
Prof. Lely juga memaparkan strategi komunikasi politik elite menurut kerangka Dan O’Hair, yang mencakup empat aspek penting: penentuan tujuan komunikasi, pemahaman konteks situasional, kompetensi komunitas, serta manajemen kecemasan dalam komunikasi. Keempat strategi ini dinilai krusial bagi para elite dalam merespons kebijakan global secara adaptif dan produktif.
Acara ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta tampak jelas terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi tanya jawab dan diskusi interaktif, di mana berbagai pertanyaan kritis mengalir mengenai solusi dan strategi menghadapi perang dagang global.