Home
news
Acara Sinau Sejarah Keistimewan DIY Menyuarakan Pentingnya Menjaga dan Melestarikan Keistimewaan Yogyakarta

Acara Sinau Sejarah Keistimewan DIY Menyuarakan Pentingnya Menjaga dan Melestarikan Keistimewaan Yogyakarta

news Kamis, 2024-03-07 - 23:01:11 WIB

Dalam rangka Mangayubagya 35 Tahun Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam tahun masehi yang diperingati setiap tanggal 7 Maret, Paniradya Kaistimewan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Sekber Keistimewaan DIY dan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) serta bekerjasama dengan Universitas Widya Mataram (UWM), telah sukses menyelenggarakan acara Sinau Sejarah Keistimewan DIY dengan tema "Menjaga dan Melestarikan Keistimewaan Yogyakarta". Acara ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Mangayubagya 35 Tahun Tingalan Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X yang diadakan di Kampus Terpadu UWM pada Kamis (7/03/2024), mulai pukul 14.00 WIB.

 

Dengan melibatkan narasumber-narasumber terkemuka yang ahli di bidangnya, diskusi yang berlangsung di acara ini memberikan wawasan mendalam mengenai keistimewaan Yogyakarta serta upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga dan melestarikannya. Keynote speaker dalam acara tersebut adalah rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. yang juga sebagai anggota Parampara Praja DIY. Dalam acara tersebut, beliau mengatakan bahwa belajar sejarah merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan, karena sejarah adalah cermin dari masa lalu yang mengajarkan kita banyak hal. “Salah satu terminologi yang sangat terkenal dari Bung Karno adalah "Jas Merah", yang mengingatkan kita untuk tidak melupakan sejarah”, sambungnya. Sejarah juga membawa kita pada pengenalan tokoh-tokoh penting seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pangeran Mangkubumi, pendiri Universitas Widya Mataram. Spirit dari kedua tokoh tersebut menjadi pegangan civitas akademika Universitas Widya Mataram dalam mengembangkan kampus, mengambil inspirasi dari semangat mereka untuk terus maju.

 

Prof. Edy juga menyampaikan bahwasanya mengenal masa lalu bukan hanya sebagai sumber pelajaran, tetapi juga sebagai kaca benggala yang memberikan inspirasi. “Dari sana, kita dapat mengambil sumber inspirasi untuk inovasi dan ide baru yang dapat membawa kemajuan”, imbuhnya. Lebih lanjut, dalam kaitannya dengan DIY, salah satu tujuan dari keistimewaan adalah mewujudkan pemerintahan demokratis. Maksudnya adalah penetapan tentang keistimewaan tersebut berdasarkan atas keputusan-keputusan yang demokratis.

 

Terkait dengan pemerintahan yang demokratis, Sri Sultan Hamengku Buwono sudah melaksanakan hal tersebut yang ditunjang dengan sifat kepemimpinan kompeten yang dimiliknya. Prof. Edy juga mengatakan,”DIY mencerminkan semangat good governance serta dianggap sebagai miniatur Indonesia, di mana berbagai etnis dan budaya dapat hidup bersama dalam harmoni”. Hal ini menjadi contoh nyata dari Indonesia versi mini dan good governance yang menjadi inspirasi bagi Universitas Widya Mataram dalam menjalankan tugasnya sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas.

 

Hadir pula Ariyanti Luhur Tri Setyarini S.H., Kepala Bagian Pelayanan dan Umum Paniradya Kaistimewan DIY yang membahas tentang peran serta Paniradya dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta. “Sejak lahirnya UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta menegaskan bahwa salah satu yang menjadikan Yogyakarta sebagai daerah istimewa adalah tugas dan kewenangan gubernur serta wakil gubernur yang berbeda dari 37 provinsi lainnya.”, terangnya. Selanjutnya, Drs. Fajar Sujarwo M.Si., Sekretaris Pawiyatan Pamong, menyampaikan informasi terkait upaya-upaya pelestarian keistimewaan Yogyakarta yang dilakukan oleh pemerintah setempat. “Pikiran Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam konteks keistimewaan bahwa Yogyakarta untuk mengisi keistimewaan adalah berbasis pada hamemayu hayuning bawana sebagai governance culture”, kata beliau.

 

Narasumber selanjutnya dalam acara ini adalah KRT Purwowinoto, S.H., Panghageng II Kawedanan Purwoaji Laksana, Kraton Yogyakarta, memberikan perspektif dari sudut pandang budaya dan tradisi Kraton dalam menjaga keistimewaan Yogyakarta. KRT Purwowinoto menyampaikan, “Sri Sultan Hamengku Buwono X terkenal akan keakuratannya dalam waktu dan juga dikenal sebagai sosok yang selalu menggunakan kata 'tolong' serta menunjukkan sikap santun kepada bawahan.” Selain itu, sebagai kepala rumah tangga, Sri Sultan Hamengku Buwono X juga memiliki peran penting dalam mendidik anak-anaknya dengan memperhatikan aspek intelektualitas yang tinggi serta sopan santun yang luar biasa, menjadikan beliau sebagai contoh teladan bagi masyarakat dalam membina keluarga yang harmonis dan berbudaya.

 

Para narasumber dan peserta diskusi berharap bahwa acara ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan keistimewaan Yogyakarta, dengan harapan bahwa pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai budaya dan sejarah daerah ini akan mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan aktif dalam menjaga warisan budaya. Selain itu, mereka juga berharap adanya terciptanya kolaborasi dan sinergi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, dan pelaku budaya, guna memperkuat upaya pelestarian keistimewaan tersebut. Selanjutnya, diharapkan hasil diskusi ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan program edukasi yang lebih luas, serta menginspirasi peneliti dan akademisi untuk melakukan riset lebih lanjut dan mengembangkan inovasi dalam bidang pelestarian warisan budaya Yogyakarta.

 

©HumasUWM


Share Berita