Oleh: Cahya Purnama Asri, S.E., M.M., Dosen Program Studi Kewirausahaan, Fakultas Hukum, Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta
Pernahkah kita merasa dunia bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya? Teknologi yang tahun lalu dielu-elukan sebagai revolusioner, hari ini bisa saja dianggap usang. Kita hidup dalam pusaran perubahan yang sering disebut sebagai Revolusi Industri 4.0 dan kini mulai bertransisi menuju 5.0. Dalam situasi ini, banyak organisasi terjebak dalam euforia adopsi teknologi: membeli perangkat lunak termahal, mengintegrasikan kecerdasan buatan, hingga bermigrasi ke komputasi awan. Namun, tidak sedikit yang tetap gagal, karena permasalahan sebenarnya bukan pada teknologinya, namun pada kepemimpinannya.
Kepemimpinan digital bukan sekadar kemampuan seorang CEO menggunakan gawai canggih atau aktif di media sosial. Kepemimpinan digital adalah paradigma baru dalam memimpin manusia, mengelola ekspektasi, serta merajut visi di tengah ketidakpastian. Konsep ini selaras dengan gagasan yang dikemukakan oleh Paul Leonardi dan Tsedal Neeley dalam buku The Digital Mindset, yang menekankan pentingnya cara berpikir baru dalam menghadapi transformasi digital.
Selama berabad-abad, kepemimpinan identik dengan hierarki dan kontrol. Pemimpin dianggap sebagai pusat pengetahuan dan pengambil keputusan tunggal. Namun, model command and control semakin kehilangan relevansinya. Di era digital, informasi tersebar secara horizontal. Pengetahuan tidak lagi monopoli mereka yang berada di puncak organisasi.
Seorang pemimpin digital tidak harus menjadi orang terpintar di ruangan. Tugasnya adalah menjadi fasilitator terbaik bagi kecerdasan kolektif. Ia membangun sistem yang memungkinkan ide-ide terbaik muncul dari berbagai level organisasi.
Penelitian Ding (2026) mengidentifikasi tiga pilar utama kepemimpinan digital: visi strategis, orientasi digital, dan kelincahan (agility). Ketiganya menjadi fondasi untuk menavigasi perubahan yang eksponensial.
Pemimpin digital memandang teknologi bukan sebagai beban biaya, melainkan sebagai enabler. Visi mereka tidak berhenti pada target margin tahun depan, tetapi pada relevansi organisasi satu dekade ke depan. Mereka berani mengajukan pertanyaan radikal, “Jika organisasi ini dibangun dari nol hari ini dengan teknologi yang tersedia, seperti apa bentuknya?”
Orientasi digital menuntut keberanian melakukan disrupsi terhadap diri sendiri sebelum kompetitor melakukannya. Kita bisa belajar dari kegagalan Kodak yang terlambat bertransformasi, meskipun menemukan kamera digital lebih dahulu. Sebaliknya, Netflix berani meninggalkan model penyewaan DVD fisik dan beralih ke streaming. Inilah keberanian strategis yang membedakan pemimpin digital dari manajer konvensional.
Dalam lanskap digital, kecepatan sering kali lebih bernilai daripada kesempurnaan. Prinsip fail fast, learn faster menjadi pedoman. Kegagalan bukan untuk disalahkan, melainkan untuk dipelajari. Organisasi yang lincah tidak terjebak dalam birokrasi berlapis, melainkan bergerak iteratif berbasis data.
Namun, strategi digital yang cemerlang akan runtuh jika budaya organisasi masih kaku dan penuh ketakutan. Pemimpin digital adalah arsitek budaya. Ia membangun transparansi informasi, mendorong kolaborasi lintas fungsi, dan meruntuhkan sekat ego sektoral.
Yang tak kalah penting, kepemimpinan digital harus humanis. Transformasi teknologi sering memicu kecemasan—takut tergantikan, takut tertinggal. Di sinilah empati menjadi kompetensi inti. Teknologi harus dipahami sebagai alat untuk memperkuat kapabilitas manusia, bukan menggantikannya.
Memasuki era Industri 5.0, fokus tidak lagi sekadar efisiensi, tetapi kolaborasi manusia dan mesin dengan orientasi kesejahteraan dan keberlanjutan. Pemimpin digital dituntut bergulat dengan pertanyaan etis: bagaimana menggunakan data pelanggan secara bertanggung jawab? Bagaimana memastikan algoritma tidak bias?
Di era ini, kepercayaan adalah mata uang paling berharga. Organisasi yang abai terhadap etika digital akan kehilangan legitimasi publik.
Selain itu, kepemimpinan digital juga berarti mampu mengelola batas konektivitas. Budaya kerja jarak jauh dan ekspektasi untuk selalu responsif meningkatkan risiko burnout. Pemimpin yang bijak mendorong keseimbangan kerja dan kehidupan, karena kreativitas tidak lahir dari kelelahan kronis.
Pertanyaannya, apakah setiap orang bisa menjadi pemimpin digital? Jawabannya: bisa. Kepemimpinan digital bukan bakat bawaan, melainkan kompetensi yang dapat dikembangkan.
Pertama, jadilah pembelajar sepanjang hayat. Kedua, dengarkan generasi muda melalui praktik reverse mentoring. Ketiga, bangun keamanan psikologis agar tim berani bereksperimen. Keempat, fokus pada masalah, bukan pada alat. Jangan membeli teknologi hanya karena tren; pastikan ia menjawab kebutuhan nyata.
Pada akhirnya, kepemimpinan digital bukan tentang mesin, bit, atau byte. Ia tentang manusia. Teknologi hanyalah alat—bisa menjadi pedang yang merusak, atau obor yang menerangi. Organisasi yang akan bertahan bukanlah yang memiliki server paling kuat, melainkan yang dipimpin oleh sosok yang mampu menginspirasi pembelajaran, adaptasi, dan kolaborasi.
Kita tidak bisa menghentikan ombak perubahan digital. Namun, dengan kepemimpinan yang tepat, kita dapat belajar berselancar di atasnya. Transformasi digital selalu dimulai dari pola pikir pemimpin, meresap ke budaya organisasi, dan pada akhirnya menghadirkan nilai bagi masyarakat luas.