Home
news
Khutbah Jumat di Religious Center Widya Nusantara UWM Tekankan Pentingnya Menjaga Kualitas Puasa

Khutbah Jumat di Religious Center Widya Nusantara UWM Tekankan Pentingnya Menjaga Kualitas Puasa

news Jumat, 2026-02-20 - 13:22:43 WIB

Khutbah Jumat yang dilaksanakan di Religious Center Widya Nusantara, Kampus Terpadu Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta pada Jumat (20/2) mengangkat tema “Menjaga Kualitas Puasa di Bulan Ramadhan”. Dalam kesempaan ini yang bertindak sebagai khatib adalah Firman Tri Wahyuono, S.H., M.H., Dosen Program Studi Hukum sekaligus Kepala Biro II UWM Yogyakarta, menegaskan bahwa esensi puasa tidak hanya terletak pada menahan lapar dan dahaga, tetapi pada upaya membentuk pribadi yang bertakwa.

Dalam khutbahnya, Firman menyampaikan bahwa tujuan utama puasa sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 adalah membentuk manusia yang bertakwa. Ia menekankan bahwa puasa merupakan “perisai” yang melindungi seorang muslim dari perbuatan sia-sia dan tindakan tercela.

“Puasa bukan hanya ibadah fisik, melainkan juga latihan spiritual untuk mengendalikan lisan, sikap, dan hawa nafsu. Ketika seseorang berpuasa, ia diperintahkan untuk menjaga ucapan dan menjauhi tindakan bodoh atau permusuhan,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Mengutip pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, Firman memaparkan enam prinsip menjaga kualitas puasa agar mencapai derajat puasa orang-orang saleh. Pertama, menjaga pandangan dari hal-hal yang melalaikan dan mengisinya dengan aktivitas bermanfaat seperti membaca Al-Qur’an dan menuntut ilmu. Kedua, menjaga lisan dari kebohongan, ghibah, dan ujaran kebencian. Ketiga, menjaga pendengaran dari hal-hal yang diharamkan. Keempat, menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat. Kelima, tidak berlebihan saat berbuka puasa agar tujuan pengendalian hawa nafsu tetap tercapai. Keenam, menghadirkan rasa takut dan harap kepada Allah saat berbuka sebagai bentuk kesadaran spiritual.

Menurutnya, kualitas puasa menjadi indikator kecerdasan spiritual seseorang. Ia mengutip hadis riwayat Imam Hakim yang menyebutkan bahwa orang cerdas adalah mereka yang mampu menundukkan hawa nafsu dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian.

Firman juga mengingatkan bahwa manusia memiliki potensi berada di bawah derajat binatang ketika dikuasai syahwat, namun dapat melampaui derajat malaikat ketika mampu mengendalikan diri. Oleh karena itu, bulan Ramadhan harus dimaknai sebagai momentum transformasi moral dan spiritual.

Khutbah Jumat tersebut diikuti oleh sivitas akademika UWM dan masyarakat sekitar kampus dengan khidmat. Momentum ini menjadi pengingat bersama bahwa Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ruang pembinaan karakter menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berintegritas.

Di akhir khutbahnya, Firman mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak peningkatan kualitas ibadah dan akhlak, sehingga puasa yang dijalankan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT.


Share Berita