Home
news
Kepemimpinan Etis dalam Organisasi: Membangun Pondasi Moral untuk Masa Depan yang Berkelanjutan

Kepemimpinan Etis dalam Organisasi: Membangun Pondasi Moral untuk Masa Depan yang Berkelanjutan

news Rabu, 2025-07-23 - 09:10:33 WIB

Dalam era modern yang ditandai dengan percepatan perubahan, disrupsi teknologi, dan kompleksitas sosial-ekonomi yang semakin meningkat, dunia organisasi dihadapkan pada tantangan yang tidak hanya menuntut inovasi dan efisiensi, tetapi juga integritas moral dan etika yang kuat. Hal ini disampaikan oleh Utami Tunjung Sari, S.E., M.Sc., dosen dan Ketua Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta pada Selasa (15/7) di Kampus Terpadu UWM, Banyuraden, Gamping, Sleman.

Utami menggarisbawahi pentingnya pergeseran paradigma dalam memandang kepemimpinan. Kepemimpinan tidak lagi cukup hanya mengandalkan kecakapan manajerial atau kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan tepat. Saat ini, masyarakat dan dunia kerja menuntut para pemimpin yang mampu menjadi panutan moral, yang tidak hanya memimpin dengan otak, tetapi juga dengan hati dan nurani.

“Kepemimpinan etis adalah gaya kepemimpinan yang menempatkan nilai-nilai luhur dan prinsip moral sebagai fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan. Seorang pemimpin etis bukan hanya mematuhi aturan, tetapi juga berani melakukan hal yang benar, bahkan ketika itu menantang atau tidak populer,” jelasnya.

Utami menambahkan bahwa pemimpin etis memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar karena mereka menjadi contoh nyata bagi seluruh anggota organisasi. Dalam jangka panjang, kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai etika akan membentuk budaya organisasi yang sehat, kolaboratif, dan berkelanjutan. Lebih lanjut, Utami menguraikan ciri-ciri utama dari kepemimpinan etis, yang menjadi pedoman penting dalam membentuk karakter kepemimpinan masa depan, antara lain: integritas, transparansi, keadilan, empati dan kepedulian sosial, tanggung jawab moral

Utami juga menekankan bahwa kepemimpinan etis memiliki peran strategis dalam menciptakan budaya organisasi yang inklusif, berdaya tahan, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, organisasi yang dipimpin secara etis justru memiliki keunggulan tersendiri dalam membangun loyalitas karyawan, kepercayaan pelanggan, dan reputasi jangka panjang.

Ia mencontohkan sejumlah organisasi besar yang sukses mempertahankan eksistensinya karena dipandu oleh nilai-nilai etis yang kokoh. Sebaliknya, banyak pula kasus runtuhnya institusi karena kegagalan moral para pemimpinnya, meskipun mereka sangat kompeten secara teknis.

“Kepemimpinan etis bukan hanya idealisme. Ini adalah kebutuhan nyata yang menentukan keberlangsungan dan kredibilitas organisasi di tengah masyarakat yang semakin kritis dan sadar akan nilai-nilai integritas,” tegas Utami.

Sebagai penutup, Utami mengajak para mahasiswa dan calon pemimpin masa depan untuk mulai menanamkan nilai-nilai kepemimpinan etis sejak dini, baik dalam kehidupan pribadi, organisasi kampus, maupun dunia kerja. “Kepemimpinan yang beretika akan menghasilkan keputusan yang bertanggung jawab, hubungan kerja yang sehat, serta organisasi yang tumbuh tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara moral,” pungkasnya.


Share Berita