Home
news
Peran dan Kepedulian Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Dunia Pendidikan

Peran dan Kepedulian Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Dunia Pendidikan


Senin, 2021-03-08 - 13:14:08 WIB

Pemikiran konseptual Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam bidang Pendidikan terejawantahkan dalam kebijakan di Pemerintah DIY. Dari aspek itu kepeduliannya terwujud dalam mendorong dunia akademik-pendidikan. Demikian disampaikan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) sebagai narasumber dalam sarasehan yang digelar Paniradya Kaistimewan, Minggu (7/3/2021) di Pendapa Agung Ambarrukmo Yogyakarta. Sarasehan digelar untuk Mangayubagya Jumenengan 32 Tahun Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Narasumber lain yang dihadirkan yakni Robby Kusumaharta (Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIY dan Widihasto Wasana Putra (Koordinator Sekber Keistimewaan DIY). Turut hadir dalam sarasehan GKR Mangkubumi, Rektor UGM, Dirut Bank BPD DIY, Kepala Dinas Pariwisata DIY dan Paniradya Pati Kaistimewan.

"Pertama-tama saya ingin menyampaikan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT untuk bisa mensyukuri dan Mangayubagyo Jumenengan Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang sampai saat ini beliau masih dalam keadaan sehat, dan melaksanakan amanahnya dengan baik, selama 32 tahun sebagai raja ke-10 Kraton Kasultanan Yogyakarta," ungkap Prof Edy Anggota Parampara Praja Pemda DIY itu.

Menurut Prof Edy, sebagai seorang Pemimpin selalu ada dinamika kepemimpinan yang terkait dengan persoalan-persoalan yang dihadapi, baik dalam lingkungan kraton maupun Pemda DIY. Hal ini pasti terjadi di mana pun, di mana seorang pemimpin berhadapan dengan berbagai perbedaan pendapat, kritik, atau bahkan juga demo-demo yang berbeda aspirasi dengan keputusan atau kebijakan yang diambil.

"Namun kita melihat semua itu bisa teratasi dan tidak mengganggu instabilitas dalam komunitas-publik di bawah kepemimpinan Ngarsa Dalem tersebut. Beliau menunjukkan diri sebagai pemimpin yang membuka diri untuk dialog, diskusi, dan mencoba memahami berbagai perbedaan pendapat yang ada, dan mengendapkannya tidak menjadi suatu yang mengganggu jalannya pemerintahan di DIY ini," papar Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) periode 2008-2009 itu.

Rektor UWM itu mengatakan, dunia akademik jelas memberikan pengakuan pada berbagai kiprah yang dilakukan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwon X. Ada tujuh Lembaga Pendidikan Tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, yang menganugerahkan Doktor Honoris Causa, atau doktor kehormatan kepada beliau. Pidato Ngarsa Dalem terakhir pada saat menerima gelar kehormatan tersebut mengelaborasi tentang urgensi pendidikan karakter berbasis budaya lokal berperan dan dibutuhkan dalam pembangunan Bangsa Indonesia, dan juga praktik yang dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagaimana disampaikan Ngarsa Dalem bahwa pendidikan karakter selama ini belum mampu mewadahi pengembangan karakter secara dinamis dan adaptif terhadap pesatnya perubahan. Implementasinya tidak bisa berjalan optimal, yang disebabkan oleh kurang terampilnya para guru memasukkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Hal itu dikarenakan sekolah terlalu fokus mengejar target akademik, khususnya agar lulus UN. Karena itu, pendidikan karakter perlu direformulasi dan direoperasionalkan melalui transformasi budaya dan kehidupan satuan Pendidikan, serta perlu lebih diajarkan aspek kecakapan hidup (soft skills) yang non-akademik sebagai unsur utama Pendidikan Karakter.

"Dalam konteks pendidikan karakter ini dengan tegas Ngarsa Dalem menawarkan solusi tentang Pendidikan berbasis kearifan lokal," ungkap pakar ekonomi itu. Kurikulum Muatan Lokal disusun berdasarkan kebutuhan daerah yang sesuai lingkungan alam, sosial, budaya, dan ekonomi lokal, serta kebutuhan pembangunan daerah dalam mata ajar yang berdiri sendiri. 

Rekomendasi Sri Sultan Hamengku Buwon X secara teoritik-empirik bisa dilaksanakan, dan ini sejalan dengan konsep management by culture, yang memanfaatkan semua kearifan lokal untuk memecahkan masalah yang ada. Pendekatan dalam pendidikan juga harus seperti itu, tanpa perlu penyeragaman yang kaku, yang sudah terbukti menghasilkan output Pendidikan yang tidak optimal. Sri Sultan Hamengku Buwon X meletakkan broad-based education, bahkan broad-based curricculum, dengan mamasukkan materi lokal, sehingga ekosistemnya pun menjadi lebih luas dan merata ke seantero Nusantara dengan karakteristik budaya khasnya masing-masing.

Prof Edy menambahkan, Kraton menjadi salah satu pilar yang tidak bisa dihilangkan dalam memajukan Pendidikan di DIY, dan juga membuat daerah ini disebut sebagai kota Pendidikan, ataupun kota pelajar sejak lama. Kraton membantu lembaga-lembaga pendidikan, dengan mengizinkan pemanfaatan Sultan Ground (SG) untuk banyak kampus. Bagaimana kita melihat peran Kraton dalam mendukung Universitas Gadjah Mada sejak awal berdirinya, dengan menyediakan aset-aset lahan dan gedung untuk kampus yang kini bukan saja dikenal di tanah air, melainkan juga menduduki peringkat cukup bergengsi di Asia Tenggara, dan bahkan Asia dan global. Dukungan Kraton terhadap kampus ini terus berlanjut dan melekat pada Sultan. 

Berkaitan dengan UWM, Prof Edy menuturkan, Sri Sultan Hamengku Buwono X Ketua Dewan Pembina yang menjadi representasi “pemilik” sama sekali tidak mengambil apapun dari perolehan operasional UWM. UWM juga sama sekali tidak memberikan apapun atas segala fasilitas yang digunakan sejak diri, termasuk kampus yang luasnya sekitar 4 hektar di area Mangkubumen. UWM hanya tinggal menggunakan lahan dan Gedung-gedung yang ada di sana. Dengan kata lain, sejak awal berdiri UWM disubsidi oleh Yayasan Mataram Yogyakarta yang dipimpin Ngarsa Dalem. Dukungan yang lain yaitu kampus baru UWM yang akan segera dibangun.

“Proses persiapan pembangunan ini sedang terus berjalan. Insha Allah beberapa bulan ke depan akan mulai dilakukan pembangunannya. Rasanya masih sulit bagi UWM untuk “disapih” oleh Yayasan Mataram, dan saya sulit menemukan (buka tidak ada) ada kampus di tanah air yang Yayasannya betul-betul all out, mengalokasikan sarana prasarana termasuk pendanaan,” jelas Prof Edy.

Mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) itu mengungkapkan semua yang dilakukan Yayasan Mataram Yogyakarta ini karena kepedulian dan kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Apakah hanya UWM yang dibantu, tentu saja tidak. Beberapa PTS (Perguruan Tinggi Swasta) juga menempati atau dibantu melalui SG. Bahkan baru-baru ini, sebuah PTS yang relatif baru berdiri juga mendapatkan bantuan SG ini. Hal ini menggambarkan kepedulian dan dukungan luar biasa Sri Sultan HB X pada Pendidikan di DIY ini," tandasnya.

@HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita