Home
news
Refleksi Teori: Toleransi Di Mata Pemuda

Refleksi Teori: Toleransi Di Mata Pemuda


Selasa, 2020-01-14 - 11:09:20 WIB

 

Keprihatinan melihat data bahwa Yogyakarta sebagai salah satu dari sepuluh wilayah intoleran di Indonesia, melatarbelakangi Mahasiswa Fakultas prodi Sosiologi Universitas Widya Mataram (UWM) menyelengarakan pemutaran dan diskusi film yang ditujukkan kepada mahasiswa Widya Mataram. Pemutaran dan diskusi tersebut sebagai langkah konkrit untuk mensosialisasikan makna sebuah perbedaan. Hal itu dikatakan M. Darmawan Mahasiswa prodi Sosiologi semester tiga. 

“Film ini adalah buah hasil mahasiswa Sosiologi Angkatan 2018 sebagai tugas akhir mata kuliah Sosiologi Pluralis dengan judul toleransi di mata pemuda,” kata mahasiswa yang akrab disapa Awan tersebut Senin (13/1/2020) di Ruang Sidang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. 

Film yang berdurasi 17 menit 34 detik itu, lanjut Awan, mengusung genre talk show dengan akhir film pembacaan puisi. Film itu melibatkan mahasiswa dari lima daerah yang berbeda sebagai aktor yaitu Kalimantan, Sumatra, Maluku, Jawa, dan Nusa Tenggara Timur. Pemilihan lima daerah ini bukan tanpa sebab, melainkan sebagai usaha menampilkan pandangan yang berbeda-beda dari setiap daerah. Di samping itu juga sebagai bentuk langkah untuk memberikan kesempatan berpartisipasi aktif kepada mahasiswa. 

“Selain untuk menyelesaikan tugas akhir, pembuatan film ini juga sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial mahasiswa Sosiologi UWM untuk merespon positif kampus berbasis budaya sekaligus bentuk praktik nyata dalam merefleksikan teori dalam mata kuliah Sosiologi Pluralis,” jelasnya. 

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Suwarjo, S.IP., M.Si mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh para mahasiswa prodi Sosiologi. Kegiatan diskusi dan pemutaran film seperti ini perlu terus di kembangkan. 

Senada dengan hal itu Puji Qomariah, S.Sos., M.Si Dosen Pengampu mata kuliah juga memberikan apresiasi film perdana itu. “Saya sangat mengapresiasi karya ini, karya pertama ini adalah bentuk nyata dari refleksi mata kuliah kita walaupun tentunya kita harus tetap berbenah untuk lebih baik lagi, baik dalam konsep dan kedalaman makna yang ingin disampaikan,” ungkapnya disela diskusi. 

Makfu Saringatun, salah satu mahasiswi yang ikut hadir mengatakan film itu sudah bagus, hanya saja pada saat pembacaan puisi akan lebih baik jika tanpa membawa teks agar ekspresi pembaca lebih maksimal.

 

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita