Home
news
Refleksi Perjuangan Jenderal Soedirman: Generasi Milenial Harus Mementingkan Bangsa dan Negara

Refleksi Perjuangan Jenderal Soedirman: Generasi Milenial Harus Mementingkan Bangsa dan Negara


Kamis, 2019-07-11 - 08:20:44 WIB

 

Universitas Widya Mataram (UWM) menjadi tempat digelarnya diskusi tentang sejarah pada Rabu (10/7/2019). Kegiatan dikemas dalam Diskusi Sejarah Interaktif 70 Tahun Gerilya Jenderal Sudirman. Hadir dalam acara putra bungsu Jenderal Soedirman yakni Teguh Sudirman. Beberapa narasumber juga dihadirkan seperti Yusman (Maestro Patung Indonesia) dan Sugiyanto Harjo Semangun Ketua Ikatan Alumni (IKAL) Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANNAS) DIY.

Diskusi sengaja digelar di nDalem Mangkubumen karena konon waktu bergerilya, istri dan anak-anak Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman tinggal di ndalem yang saat ini di dipergunakan sebagai kampus UWM. Sigit Sugito perwakilan penyelenggara menyampaikan hal tersebut dalam sambutannya.

“Kita dapat hadir bersama untuk memberi refleksi dan penghargaan untuk mengungkit rasa kebangsaan dan nasionalisme kita lewat diskusi 70 tahun Jenderal Soedirman”, kata Sigit. 

Menurut Sigit diskusi merupakan salah satu cara untuk menapaki jejak pahlawan perjuangan dari Pangsar Jenderal Soedirman. Harapannya diskusi akan menjadi awal bagi generasi milenial untuk mengetahui bahwa jejak pahlawan itu penting untuk hari ini dan masa depan. 

Wakil Rektor I Prof. Dr. Ir. Ambar Rukmini, MP mengatakan bahwa ndalem ini pernah ditempati keluarga Jenderal Soedirman pada saat beliau bergerilya. Tempat ini sangat bersejarah karena digunakan keluarga Jenderal Soedirman, Universias Gadjah Mada juga pernah menempati kampus ini sampai tahun 1982. Pada tahun 1982 HB IX mendirikan UWM.

“Sejarah-sejarah ini merupakan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi kami semua. Kami tentunya juga ingin mengetahui sejarah lebih jauh dari para narasumber”, tutur Ambar. 

Sebagai putra bungsu seorang Pangsar, Teguh yang telah berusia 70 tahun menceritakan perjuangan ayahnya. Teguh juga mengajak untuk meniru semangat dan perjuangan Pak Dirman, karena beliau sudah memberikan waktu untuk Indonesia atas perjuangan yang dilakukan. 

“Apa yang dilakukan Pak Dirman merupakan perjuangan untuk ditiru generasi milenial sehingga tidak mementingkan diri sendiri tetapi memikirkan bangsa dan Negara”, terang Teguh yang waktu itu juga lahir di ndalem mangkubumen. 

Menurut Sugiyanto, sosok Jenderal Soedirman memiliki setia iman, setia akan akibat, setia ilmu, setia perjuangan dan setia berkorban. Hal itu dapat dilihat dari perjuangan dalam keadaan sakit parah dan rela meninggalkan isteri dan anak-anaknya. Kekuatan Jenderal Soedirman terletak pada lima setia tersebut. 

Yusman yang merupakan seniman menuturkan bahwa sejarah harus tetap dicatat meskipun tidak diabadikan. Sebagai maestro patung, relief Jenderal Soedirman juga dibuatnya di Pacitan dari usia Jenderal Soedirman tiga tahun hingga wafat. 

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita