Home
news
Puasa Bisa Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi

Puasa Bisa Jadi Momentum Pemulihan Ekonomi


Sabtu, 2021-04-17 - 16:55:22 WIB

Bulan Ramadhan bisa dijadikan momentum pemulihan ekonomi, karena data empirik setiap Ramadhan, termasuk saat terjadi krisis ekonomi 1997/1998, tetap terjadi peningkatan permintaan konsumsi masyarakat. Ini akan mendukung ekspansi dan pertumbuhan ekonomi. Demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) dan Pengamat Ekonomi Syari’ah dalam Webinar Kajian Ramadhan 1 yang terselenggara atas kerjasama Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM (KAFEGAMA), KAFEGAMA DIY, Bank Indonesia (BI), dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Sabtu (17/4/2021) melalui aplikasi zoom.

Acara virtual itu digelar dengan tema “Ramadhan dan Pemulihan Ekonomi”. Narasumber yang dihadirkan yakni Perry Warjiyo, Ph.D Gubernur BI dan Ir. Adiwarman Azwar Karim, SE., MBA., MAEP yang merupakan Pakar Ekonomi Syariah.

Menurut Prof Edy, dorongan kenaikan permintaan itu terjadi karena pada saat Ramadhan spirit beribadah tinggi, sehingga mereka yang berpunya mengalokasikan zakat, infak, dan sedekahnya bagi kaum duafa, mustadafin, atau orang miskin yang jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 27 juta sebagai akibat Covid-19.

"Ini merupakan transfer dari si kaya ke si miskin, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, karena kaum miskin cenderung membelanjakan untuk kebutuhan pokok, dan itu buatan dalam negeri," ujar Prof Edy.

Menurut Guru Besar Ilmu Ekonomi itu, spirit dari Al-Qur’an Surat Az Zariyat ayat 19,sangat terasa di bulan Ramadhan ini meskipun ayat tersebut memerintahkan umat Islam membagikan sebagian hartanya kepada orang miskin setiap saat, tidak hanya pada bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan yang penuh berkah, perintah tersebut lebih banyak dilakukan.

Sementara itu, Perry Warjiyo mengajak audien masyarakat untuk memuliakan Ramadhan dan bersinergi dalam memulihkan ekonomi. Menurutnya, Pandemi Covid-19 mengajarkan kita untuk lebih kuat bertahan, optimis adanya kondisi baik dan bersiap menyambut peradaban baru.

“Proses pemulihan ekonomi kita sedang berlangsung, kita harus optimis bahwa ekonomi akan membaik. Harus terbangun sinergi kebijakan antara pemerintah, BI, OJK (Otoritas Jasa Keuangan), perbankan dan dunia usaha,” papar Ketua Umum Pengurus Pusat KAFEGAMA itu.

Untuk menyambut peradaban baru, dirinya menambahkan, telah dilakukan digitalisasi ekonomi dan keuangan. Kebijakan BI lainnya dalam mendorong pemulihan ekonomi juga diwujudkan melalui kebijakan moneter dan relaksasi kebijakan makroprudensial.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita