Home
news
Proklamasi dan Piagam Kedudukan DIY, Generasi Muda Harus Paham Sejarah

Proklamasi dan Piagam Kedudukan DIY, Generasi Muda Harus Paham Sejarah


Jumat, 2021-08-27 - 09:07:29 WIB

Generasi milenial banyak yang tidak mengetahui sejarah, salah satunya bangunan bersejarah nDalem Mangkubumen yang saat ini digunakan sebagai institusi pendidikan Universitas Widya Mataram (UWM). Jika merunut sejarah, nDalem Mangkubumen pernah dipakai untuk markas Jenderal Soedirman pada masa gerilya, artinya bangunan ini memiliki peran penting pada masa perjuangan kemerdekaan.

Hal itu disampaikan Puji Qomariyah, S.Sos., M.Si Dosen Universitas Widya Mataram (UWM) sebagai Narasumber pada dialog yang digelar Paniradya Kaistimewan DIY bertema Proklamasi Kemerdekaan dan Piagam Kedudukan, Rabu (25/8/2021) di Pendopo Agung UWM. Narasumber lain yang juga mengisi acara tersebut diantaranya Hendro Muhaimin (dari Pusat Studi Pancasila UGM dan tenaga Ahli Parampara Praja DIY), Haryadi Baskoro (peneliti dan Pakar Keistimewaan DIY), dan Widihasto Wasana Putra (Aktivis, Koordinator Sekber Keistimewaan DIY).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, keistimewaan kedudukan hukum yang dimiliki oleh DIY adalah atas dasar sejarah dan hak asal usul menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, sehingga DIY berhak untuk mengatur dan mengurus kewenangan istimewanya. Keputusan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Paku Alam VIII untuk menjadi bagian dari Republik Indonesia, serta kontribusinya untuk melindungi symbol Negara-bangsa pada masa awal kemerdekaan telah tercatat dalam sejarah Indonesia.

Puji menyampaikan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersama putra mahkotanya mendirikan UWM dengan kekhasan sebagai lembaga pendidikan yang berbasis budaya. Jauh sebelum digunakan sebagai kampus UWM, nDalem Mangkubumen juga sempat digunakan sebagai fakultas kedokteran UGM. “Menjadi tugas kita bersama untuk mengenalkan sejarah DIY kepada generasi muda terutama para mahasiswa yang berkuliah di DIY. Mereka (mahasiswa) dikenalkan sejarah tidak untuk menjadi orang Jogja, mereka tetap menjadi diaspora, namun memahami sejarah DIY,” kata Puji.

Menurut Hendro, peristiwa Proklamasi yang kemudian diikuti piagam kedudukan bisa kita lihat bahwa sejak awal persiapan Indonesia merdeka sudah dirumuskan dasar Negara yakni Pancasila yang kemudian juga dipersiapkan untuk proklamasi. Disisi lain, golongan muda mendesak Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, hingga pada akhirnya di bacakan teks proklamasi. Uniknya daerah-daerah Indonesia yang terdiri dari kerajaan kecil, memiliki suasanan kebatinan yang sama atas kemerdekaan RI, sehingga semua mengirimkan pesan kawat ucapan selamat kepada Soekarno atas kemerdekaan RI.

“Situasi mengharukan, ketika adanya Amanat 5 September 1945 Yogyakarta menyatakan bergabung pada Republik Indonesia, dan pada tanggal 6 September 1945 piagam kedudukan sampai di Yogyakarta. Suasana kebatinan dan semangat rakyat dengan pimpinannya tampak dalam situasi tersebut,” terang Hendro.

Widihasto sendiri mengatakan, generasi saat ini harus mengetahui sejarah sebagai inspirasi. Peristiwa Proklamasi dan Piagam Kedudukan tercipta karena interaksi dan komunikasi yang baik antara dua tokoh besar yakni Soekarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kedua tokoh tersebut telah memahami tata kelola sebuah negara, sehingga generasi saat ini harus memahami sejarah tersebut agar dalam aktivitasnya menjaga keistimewaan dan kemerdekaan juga terarah.

“Bung Karno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX adalah milenial kalau ukuran sekarang. Dari hal itu sangat relevan dengan konteks saat ini. Konteks semangat generasi muda pada tahun 1945 harus direalisasikan oleh generasi milenial hari ini,” kata Widihasto.

Sementara itu Haryadi menjelaskan, sejarah harus didokumentasikan dan di sharing-kan dengan baik. Jika melihat konteks proklamasi dan piagam kedudukan, poinnya adalah keistimewaan DIY merupakan komitmen dua negara yakni Negara Republik Indonesia dan Negara Ngayogyakarta Hadiningrat.

“Relasi antara pimpinan Indonesia (Soekarno) dan pimpinan DIY (Sultan HB IX) itu penting, karena keistimewaan diawali dari soliditas dan kolaborasi kedua tokoh tersebut,” kata Haryadi.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita