Home
news
Peningkatan Ketahanan Ekonomi: Kebijakan Fiskal dan Moneter Harus Bersinergi

Peningkatan Ketahanan Ekonomi: Kebijakan Fiskal dan Moneter Harus Bersinergi


Rabu, 2020-08-26 - 20:52:31 WIB

Berbagai upaya telah diadopsi negara Indonesia dalam aspek ekonomi, sosial, dan komersial untuk penanganan Covid-19, akan tetapi belum mencapai target seperti yang diharapkan. Peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia berdampak pada aktivitas ekonomi yang terus mengalami penurunan. Kebijakan Fiskal dan Moneter harus bersinergi sehingga dapat memberikan hasil optimal dalam memperbaiki perekonomian. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai narasumber dalam Seminar Internasional yang digelar Universitas Narotama pada Rabu (26/8/2020). 

Seminar Internasional bertajuk Enhancing Economics Resilience: A Multi Countries Experience of Macro-Economics Policy Responses to Covid-19 Pandemic turut menghadirkan Keynote Speaker diantaranya: Dr. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc. (Wakil Gubernur Jawa Timur), Rr. Iswachyu Dhaniarti, DS., ST., M.HP (Ketua Yayasan Pawiyatan Gita Patria), dan Dr. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.EI (Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Pusat). Narasumber bidang ekonomi antara lain: Elena Egorycheva (Dosen Senior Ekonomi Fakultas Ekonomi, RUDN University, Russia), Prof. Augendra Bhukuth (Professor ITSMI School of Management Paris), dan George Iwan Marantika, MBA (National President Indonesia Australia Business). Sementara narasumber bidang hukum antara lain: Dr. Habib Adjie, SH., M.Hum (Ketua Program Pascasarjana Notaris, Universitas Narotama), Prof. Dr. Jamal Wiwoho, SH., M.Hum (Rektor Universitas Sebelas Maret), Prof. Yuzuru Shimada (Guru Besar di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional Universitas Nagoya), dan Prof. Dr. Adrian Bedner (Kepala Departemen Institut Van Vollenhoven Bidang Hukum, Pemerintahan, dan Sosial Universitas Leiden, Belanda). 

Menurut Prof. Edy, penanganan Covid-19 di Indonesia dapat dikatakan lamban semenjak adanya kasus pertama yang menginfeksi dua orang pada tanggal 2 Maret 2020 lalu hingga jumlah penularan meningkat menjadi 1.406 orang pada akhir Maret. Sementara untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan melindungi sektor kesehatan, pemerintah Indonesia telah menerapkan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). 

“Penerapan PSBB yang meluas di setiap daerah berdampak pada perekonomian di Indonesia yang terus melambat. Pemerintah harus segera menerapkan kebijakan moneter dan fiskal untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian,” papar Anggota Parampara Praja Pemda DIY itu yang disampaikan dalam bahasa asing. Kebijakan fiskal yang diambil oleh pemerintah meliputi tiga aspek diantaranya memfokuskan kembali pada aktivitas penanganan Covid-19, melakukan realokasi anggaran untuk memenuhi semua bidang di seluruh wilayah, dan memberikan stimulus untuk meningkatkan perekonomian. 

Pandemi Covid-19, lanjut Prof Edy, telah mempengaruhi perekonomian dunia hampir sama dengan The Great Depression pada tahun 1929 yang melanda ekonomi di seluruh dunia. Oleh karena itu, Indonesia dapat mengedepankan keselamatan ekonomi terlebih dahulu dan fokus pada pembangunan dalam negeri (Inward Looking Policy). 

Ketua Forum Rektor Indonesia tahun 2008-2009 itu menuturkan, pada saat ekonomi Indonesia pulih melalui kebijakan yang berwawasan ke dalam, maka Indonesia dapat menjadi pemain utama ekonomi dunia setelah Covid-19 berlalu. Kebijakan berwawasan ke dalam negeri tersebut untuk mendorong perekonomian lokal seperti mendongkrak daya beli masyarakat, meningkatkan ekspor, meningkatkan konsumsi, memperbaiki kegiatan pada sektor riil yang sebelumnya mengalami penurunan, menjaga stabilitas ekonomi, dan memfokuskan kembali pada pemulihan ekonomi. 

“Beberapa institusi mempunyai perbedaan dalam memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pada kenyataannya, perekonomian Indonesia akan mengalami resesi jika negatif pada triwulan III-2020. Pemerintah harus melakukan upaya mengatasi kekhawatiran tersebut dengan memulihkan perekonomian setelah pandemi berakhir melalui peningkatan sektor riil,” tutup Prof. Edy. 

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita