Home
news
Pendidikan Berbasis Budaya Menepis Dehumanisasi

Pendidikan Berbasis Budaya Menepis Dehumanisasi


Senin, 2019-10-07 - 16:50:21 WIB

 

Universitas Widya Mataram (UWM) hari ini genap berusia 37 tahun. Rektor UWM Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec mengatakan dalam Dies Natalis ini sebagai memontum mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga penyelenggaraan pendidikan di UWM secara konsisten dapat memberika kontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke 37 UWM digelar Senin (7/10/2019) di Pendopo nDalem Mangkubumen. Hadir dalam acara Kepala Lldikti Wilayah V Yogyakarta, Ketua Yayasan Mataram Yogyakarta, para pejabat instansi dan universitas di DIY dan sivitas akademika UWM.

“UWM yang didirikan pada Kamis Legi, 7 Oktober 1982 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPH mangkubumi (sekarang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono X) sebagai wujud nyata sumbangan beliau bagi pembangunan bangsa dan negara dalam bidang pendidikan,” papar Edy.

Berdasarkan sejarah, lanjut Edy, diharapkan UWM mampu menghasilkan sarjana, calon pemimpin bangsa yang senantiasa memegang teguh prinsip hamemayu hayuning bawana atau bersahabat dan menjaga kelestarian alam. UWM juga harus menghasilkan pemimpin berwatak ksatria, bersikap golong gilig, dan sengguh ora mingkuh.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, saat pembukaan kampus ini, menyatakan “Saya mendirikan Universitas Widya Mataram ini tidak untuk menambah deretan panjang jumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, tetapi saya ingin memberikan alternatif bagi dunia pendidikan di Indonesia”. Beliau juga mengharapkan UWM sebagai laboratorium pendidikan budaya, melengkapi UGM sebagai laboratorium pendidikan nasional di Yogyakarta ini.

“Menurut persepsi saya, (Alm) Sri Sultan Hamengku Buwono IX berharap UWM bukan sekedar hadir dan ada dalam blantika Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, tetapi menjadi alternatif, suatu pilihan dengan keunikan dan kekhasan yang mungkin tidak fokus di kampus lain yakni pendidikan berbasis budaya yang melahirkan insan-insan berkarakter ke-Mataraman dan ke-Indonesiaan,” terang Mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) itu.

Edy menerangkan bahwa UWM bersifat subtitutif dan seharusnya menjadi pilihan yang memiliki pembeda jelas dengan PT lainnya. Ada posisi yang jelas, bersifat unik dan spesifik sarat dengan penguatan karakter dan budaya. Sebagai suatu PT yang kini hidup dimasa Revolusi Industri 4.0 dengan berbagai turunannya, tentu UWM ingin melahirkan lulusan yang profesional sesuai bidangnya dengan segala kompetensinya.

Dalam aspek program prioritas, Edy menyampaikan, beberapa program yang akan dilaksanakan diantaranya 1). Mewujudkan visi dalam balutan budaya, 2). Mewujudkan tata pamong yang kredibel, transparan, akuntabel bertanggungjawab dan adil, 3). Melakukan restrukturisasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja, 4). Menegakkan penjaminan mutu akademik dan non akademik, 5). Melaksanakan pentahapan sasaran mutu, sehingga terjadi peningkatan mutu, dan 6). Mempercepat realisasi pembangunan kampus baru yang telah dicanangkan.

Sementara itu Ketua Yayasan Mataram Yogyakarta (YMY) Prof. Dr. Mahfud, MD menjelaskan tujuan negara itu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan mencerdaskan otak.

“Pendidikan berbasis budaya ingin menjadikan manusia tidak hanya seperti mesin. Pendidikan di era 4.0 ini telah membawa dampak dalam bentuk dehumanisasi atau penghilangan watak-watak kemanusiaan, sehingga dibutuhkan pendidikan berbasis budaya,” terangnya.

Mahfud mengajak agar UWM ini kita bawa untuk menjadi pelopor pendidikan yang berkemanusiaan, cinta tanah air, berakhlak, taat beragama di negara Pancasila, penuh gotong-royong dan sebagainya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memanusiakan manusia dengan tidak hanya mencerdaskan otak.

 

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita