Home
news
Pemimpin Visioner Harus Mampu Bangkitkan Harapan di Tengah Pandemi Covid-19

Pemimpin Visioner Harus Mampu Bangkitkan Harapan di Tengah Pandemi Covid-19


Senin, 2020-08-31 - 08:18:01 WIB

Kepemimpinan menjadi faktor penting sehingga dapat memberikan harapan besar bagi siapa saja yang terpengaruh oleh kepemimpinan tersebut. Pemimpin harus mampu mempertimbangkan secara matang dalam pengambilan kebijakan untuk menghindari kesalahan fatal yang berdampak buruk bagi masyarakat. Pemimpin yang memiliki karakter leadership salah satunya pemimpin visioner yang visinya membumi sehingga dapat direalisasikan dan membawa kemajuan. 

Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta sebagai penanggap dalam webinar bertajuk Kebaruan Kepemimpinan Aplikatif dalam Kondisi Wabah dan Indah. Webinar diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UWM bekerjasama dengan Komunitas Akademia Banua Banjar (KABB) dengan mengundang narasumber Dr. Ir. Tri Cicik W. SE., MM., M.Psi. (Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Gresik) dan Dr. Usman Effendi (Dosen Universitas Persada YAI Jakarta), serta narasumber lain sebagai penanggap Dr. Andin R., AM.Keb. SH., MH ADV CHE (Universitas Islam Negeri Antasari Kalimantan Selatan).

 “Pemimpin harus memiliki communication skills yang baik sehingga mampu menjadi influencer kepada siapapun yang dipimpinnya” kata Prof Edy, pada Minggu (30/8/2020). 

Menurut Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) tahun 2008-2009 itu, dalam karakter kepemimpinan, pemimpin mampu membangkitkan harapan, dan tidak menimbulkan rasa takut bagi lingkungannya. Keteladanan menjadi hal penting yang harus dimiliki pemimpin, terlebih pada kondisi pandemi Covid-19 ini. Setidaknya kita dapat belajar dari kepemimpinan dari beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, dan Tiongkok yang sudah menjadi negara maju karena karakter kepemimpinan yang dimiliki. 

Penasehat Gubernur DIY bidang Ekonomi itu mengutip pepatah Vision Without Action is a Daydream, Action Without Vision is a Nightmare. Mengenai pentingnya seorang sosok pemimpin, Indonesia lebih banyak memiliki bos dibandingkan pemimpin yang dalam praktiknya banyak dikuasai pribadi dengan karakter bos yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas sebagai pemimpin. Pola seleksi di Indonesia juga lebih mengarah pada aspek banyaknya dukungan dibandingkan dengan kualifikasi substantif. 

©HumasWidyaMataram

 


Share Berita


Komentari Berita