Home
news
Pemimpin Sukses Tak Sekedar Menyenangkan Orang Lain

Pemimpin Sukses Tak Sekedar Menyenangkan Orang Lain


Sabtu, 2021-12-11 - 14:11:09 WIB

Pemimpin yang dikategorikan suskes berani mengambil risiko atas kebijakannya, bukan sosok yang sekedar ingin menyenangkan orang lain. “Itulah pemimpin substantif,” kata Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, Sabtu (11/12/2021).

Di hadapan peserta Musyawarah Besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum UWM, profesor ekonomi pembangunan tersebut menyatakan, pemimpin yang berhasil bisa menunjukkan jalan kepada masyarakat menuju ke arah yang lebih baik, bisa meyakinkan gagasan atau kebijakannya ke warga, dan memiliki gaya kepemimpinan tertentu.

“Pemimpin itu tidak sebatas tanda tangan surat, menghadiri acara-acara seremoni tertentu dengan kepala kosong, tidak mengerti apa yang harus dikerjakan dan disampaikan ke masyarakat. Pemimpin demikian kategori pimpinan formal saja, sekedar menjadi pimpinan,” ujar dia.

Pemimpin substantif dalam memutuskan dan menjalankan kebijakan harus berani untuk mengambil risiko. Sikap demikian sangat penting bagi pemimpin untuk menunjukkan apakah dirinya memiliki komitmen dan kompetensi. Kemudian pemimpin juga mampu bersikap demokratis. “Pemimpin perlu meghargai orang lain, menerima pendapat dan saran yang berbeda-beda dari warga dalam mencapai tujuan.”

Mencapai kategori pemimpin substantif, menurut Edy Suandi Hamid, terjadi bukan secara alamiah dan dilahirkan. Siapapun bisa menjadi pemimpin besar, yang mampu mengelola kebijakan, menghadirkan solusi atas berbagai persoalan, dan itu bisa dicapai melalui pelatihan-pelatihan kepemimpinan.

“Saya menjadi rektor di berbagai universitas bukan lantaran dilahirkan, itu saya mencapai melalui berbagai latihan kepemimpinan. Jalan yang saya tempuh adalah menjadi aktivis kampus. Jadi saya menjadi pemimpin karena saya menjadi aktivis kampus,” ujar dia.

Dengan latihan kepemimpinan, siapapun bisa kompeten menjadi pemimpin. “Agar seorang bisa menjadi pemimpin, itu bisa dididik. Hasilnya apakah dia menjadi pemimpin kuat atau lemah, itu terjadi dengan proses.”

Dekan Fakultas Hukum UWM Dr. Kelik Endro Suryono, S.H., M.Hum menyatakan, eksistensi lembaga kemahasiswaan sekelas BEM sangat strategis bagi mahasiswa dan fakultas. Dengan menjadi pengurus dan anggota BEM, mahasiswa telah maju selangkah untuk melatih dirinya sebagai pemimpin.

Sebagai calon pemimpin maupun penegak hukum, menurutnya, pelatihan kepemimpinan, menjadi aktivis, praktik komunikasi, menyampaikan pendapat terbuka di hadapan publik atau menguasai soft skill sangat bermanfaat bagi masa depan dan karir mahasiswa.

Dia mengingatkan mahasiswa perlu menjadi aktivis untuk mendapatkan atribut ketrampilan non akademik. Peran demikian perlu diimbangi dengan disiplin waktu kuliah. Mahasiswa menjadi aktivis tidak berarti boleh lulus melebihi batas waktu yang disepakati dalam perkuliahan.

“Mahasiswa aktif di lembaga kemahasiswaan itu jangan dijadikan alasan boleh lulus melebihi empat tahun. Mahasiswa sukses bisa memadukan kegiatan akademik dan kegiatan ekstra kampus disertai tetap berprestasi secara akademik,” ujar dia.

Soal keberadaan BEM, Kelik Endro, menyatakan, sangat membantu tugas fakultas dalam melancarkan komunikasi dengan mahasiswa dan elemen-elemen kemahasiswaan di fakultas, program studi, dan universitas.

Dia mencontohkan, fakultasnya mengalami kendala untuk menghadirkan mahasiswa ketika universitas menyelenggarakan webinar persiapan Program Kreativitas Mahasiwa (PKM). Karena kuliah masih offline, para mahasiswa sebagian besar di luar kampus, dan di luar Yogyakarta. Menurut dia, andaikata pengurus BEM aktif, kesulitan itu bisa dikanalisasi. “Saya menyambut dan mendukung penuh pemilihan pengurus BEM. Semoga kepengurusan BEM bisa membantu melancarkan kegiatan mahasiswa,” ujar dia.***

©Humas WidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita