Home
news
Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kampus, UWM Tetap Mengutamakan Pengembangan Akademik

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kampus, UWM Tetap Mengutamakan Pengembangan Akademik


Sun, 2021-09-05 - 16:08:33 WIB

Peradaban manusia akan berubah, namun kita harus kembali terlebih dahulu pada pondasi dasar kehidupan dengan harapan yang lebih riil. Pada peradaban baru ini seharusnya manusia tidak mendasari hidupnya hanya karena lifestyle, namun membangun kebersamaan sehingga hidup lebih nyaman. Demikian disampaikan Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X Gubernur DIY sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Mataram Yogyakarta dalam sambutan acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Kampus Baru Universitas Widya Mataram (UWM), Minggu (5/9/2021) di lokasi pembangunan kampus baru, Jl. Tatabumi Selatan, Banyuraden, Gamping, Sleman.

Turut hadir dalam acara Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH., SU (Ketua Umum Yayasan Mataram Yogyakarta dan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan), Prof. Dr. Didi Achjari, SE., M.Com., Ak., CA. (Kepala LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta), GKR Mangkubumi, Irjen Pol Asep Suhendar (Kapolda DIY), Dra. Kustini Sri Purnomo (Bupati Sleman), AKBP. Wachyu Tri Budi Sulistiyono, S.I.K., MM (Kapolres Sleman), Kol. Inf. Alfianto (Danrem 072 Pamungkas), Drs. Santoso Rohmad, MM (Direktur Utama Bank BPD DIY), serta jajaran Pimpinan dan Fakultas di UWM.

Gubernur DIY mengatakan, didalam konteks peradaban baru, manusia menjadi sangat ketergantungan dengan teknologi, bahkan manusia dibuat seolah-olah seperti robot oleh perusahaan transnasional yang hanya mencari keuntungan. Semestinya pada masa depan manusia lebih manusiawi karena manusia adalah ciptaan-Nya, dan bukan diciptakan oleh teknologi.

“Bagi kami, kampus tidak sekedar simbol kependidikan di Yogyakarta, tetapi juga untuk memberikan nilai ekonomi dan menumbuhkan dinamisasi masyarakat. Dalam kondisi pandemi, Pemerintah DIY juga memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengikuti vaksin meski tidak ber-KTP DIY,” papar Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ngarsa Dalem berharap dengan pembangunan kampus baru UWM akan lebih membangun akuntabilitas bagi UWM.

Prof Mahfud menuturkan, peradaban baru akan membawa banyak perubahan dalam kehidupan termasuk gerakan fisik, kejiwaan, sikap, persepsi didalam pergaualan dan produk barang. Namun sebagai kampus budaya jangan sampai kehilangan ruhnya.

“Ruh sebagai kampus berbasis budaya adalah bahwa hidup itu dengan penuh kesantunan, persaudaraan, tepa slira. Kaitanya dengan pandemi, corona ini seperti pasangan hidup, ada dan tidak bisa ditakhlukkan tetapi disikapi dengan budaya baru,” ucap Menko Polhukam itu.

Perlintasan nilai-nilai budaya melalui digital, Prof Mahfud memaparkan, tidak akan bisa dihindarkan. Sehingga disitulah pentingnya Kampus UWM yang berbasis budaya. Kampus UWM secara kelembagaan juga kuat karena melekat pada Kraton Yogyakarta sebagai pusat budaya.

“Mudah-mudahan dalam rangka peletakan batu pertama ini kita juga menanamkan tekad bahwa budaya adiluhung akan kita kembangkan dari kampus ini tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkap Prof Mahfud.

Prof Edy menjelaskan, pembangunan Kampus UWM menjadi penantian panjang bagi sivitas akademika dan momen bersejarah untuk akselerasi pengembangan kampus. Realisasi ini menjadi penantian panjang bagi sivitas akademika dan momen bersejarah untuk akselerasi pengembangan kampus. Gedung yang akan dibangun berada di atas lahan seluas 26.209 M2. Pada tahap pertama akan memanfaatkan lahan 15.000 m2 untuk gedung rektorat tiga lantai seluas 2.520 M2 dengan 28 ruang, pendopo dengan luas 32 x 33 (1056 M2), gerbang kampus, area parker, dan taman dengan luas 5000 M2. Sementara pada pembangunan tahap kedua, akan dibangun gedung perkuliahan 4 unit. Sporthall dan Amphitheater, dan Religious Center.

“Pembangunan kampus tidak hanya dalam unsur fisik, tetapi pembangunan yang lebih mengutamakan pengembangan akademik, sehingga cit-cita pendiri kampus bias diwujudkan,” kata Prof Edy.

Menjelang Dies Natalis ke-39, lanjut Prof Edy, pertama kali juga kampus UWM akan mengajukan pembukaan program pascasarjana hukum. Dari sisi perkembangan kampus, beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan. Semua Program Studi (Prodi) sudah terakreditasi Sangat Baik (B) kecuali Prodi Baru. Jumlah mahasiswa di tengah pandemi juga relatif stabil.

Sementara itu, Prof Didi mengatakan budaya adiluhung dapat diekspor untuk menjadi target devisa negara. Kampus menjadi titik yang penting untuk membantu kemandirian bangsa dalam hal budaya. Tidak perlu melarang penggunaan produk luar negeri, namun cukup dengan mendidikan anak-anak bangsa menggunakan produk dalam negeri.

“UWM memiliki posisi strategis untuk mewujudkan mimpi-mimpi Ngarsa Dalem melalui jalan kemandirian budaya dalam melawan hegemoni asing,” kata Prof Didi.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita