Home
news
Pasca Pilpres 2019, Presiden Terpilih Diharapakan Menjadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

Pasca Pilpres 2019, Presiden Terpilih Diharapakan Menjadi Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi


Kamis, 2019-04-18 - 14:18:39 WIB

 

Ekonomi menjadi salah satu aspek prioritas dan selalu digembor-gemborkan dalam masa kampanye bagi Calon Presiden (Capres) maupun Calon Wakil Presiden (Cawapres) pada Pemilu 2019 lalu. Perekonomian Indonesia selalu dibidik oleh para capres dan cawapres untuk menggaet dukungan. Pesta demokrasi yang telah ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia telah terlaksana 17 April 2019 kemarin. Beberapa kalangan akademisi terus mempelajari dinamika yang ada untuk mengetahui proyeksi ke depan pasca pilpres.

Seminar diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta. Beberapa pembicara yang turut mengisi diantaranya Pemimpin Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY yang diwakili Deputi Kepala KPBI DIY, Robby Kusumaharta (Pengusaha dan penasehat Kadin DIY), Prof. Lincolin Arsyad, Ph.D (Guru Besar FEB UGM dan Penasehat ISEI Yogyakarta), dan Prof. Dr. Edy Suandi hamid, M.Ec (Rektor Universitas Widya Mataram dan Dosen FE UII).

Berdasarkan pemaparan Deputi Kepala KPBI DIY Sri Fitriani, momentum pertumbuhan ekonomi DIY pada tahun 2018 belum dimotori sektor riil karena masih didominasi oleh pembangunan proyek pemerintah. Oleh karena itu dibutuhkan optimalisasi sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baik yang establish maupun new source of growth untuk menghadapi resiko-resiko yang dapat menghambat sustainability. Sri juga memberikan saran agar sinergi, koordinasi dan upgrading teknologi menjadi perhatian utama untuk menuju pertumbuhan DIY yang merata dan berkualitas. Hal tersebut dengan melihat sektor jasa pemerintah maupun indsutri kreatif yang bisa mendorong kinerja sektor primer maupun manufaktur di DIY.

Disisi lain Prof. Lincolin mengatakan bahwa perekonomian Indonesia telah megalami transformasi menjadi ekonomi jasa yang berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan tenaga kerja terdidik dan terapil (human capital). Peningkatan kualitas tersebut dapat dilakukan melalui program-program pendidikan dan kesehatan. Dengan begitu pada masa yang akan datang, investasi Sumber Daya Manusia (SDM) harus diprioritaskan.

Pengalaman empirik di negara maju yang membuat pertumbuhan ekonomi adalah infrastruktur. Namun di Indonesia infrastruktur yang dibuat bukan untuk public good, melainkan berbayar dan yang dapat menikmati adalah kalangan tertentu. Oleh karena itu perlu ada reorientasi pembangunan infrastruktur, terutama untuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec sebagai pembicara dalam Seminar pada Kamis (18/4/2019) di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Seminar tersebut mengangkat tema “Perekonomian Indonesia Pasca Pemilihan Presiden 2019: Prospek dan Tantangan”.

Lebih lanjut Prof. Edy berharap UMKM akan terus digalakkan untuk market place dengan memanfaatkan unicorn yang ada. Namun saat ini UMKM mengalami persoalan terkait dengan kemasan dan branding walaupun di DIY tidak berpengaruh pasca pilpres. Hal lain yang justru terpengaruh adalah adalah keberadaan bandara, sehingga presiden terpilih diharapkan dapat menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita