Home
news
Pakar: Bahan Baku Langka, Saatnya Menggiatkan Tempe Non Kedelai

Pakar: Bahan Baku Langka, Saatnya Menggiatkan Tempe Non Kedelai


Jumat, 2021-01-08 - 09:23:34 WIB

Harga kedelai sering mengalami fluktuasi yang berakibat pada kelangkaan bahan baku tempe kedelai. Produsen tempe dan turunannya pun mengeluh karena harga bisa melambung yang membuat biaya produksi menjadi mahal. Kondisi ini bisa diatasi dengan membuat produk tempe dengan bahan-bahan lain yang harganya terjangkau dan tidak melulu bergantung pada impor. 

''Banyak kacang-kacangan yang dapat digunakan sebagai bahan baku tempe, beberapa sudah sangat dikenal seperti kacang kara, benguk, kapri. Tempe dari bahan tersebut rasanya juga gurih, enak dan kaya protein,'' ungkap pakar teknologi pangan Universitas Widya Mataram (UWM) Yogyakarta, Prof Dr Ir Ambar Rukmini MP menanggapi persoalan kedelai, Rabu (6/1). 

Ia menegaskan pemerintah dapat menggiatkan penanaman bahan baku tempe non kedelai sebagai pengganti pedelai agar ketersediannya di pasaran terus terjaga. Nilai lebih secara ekonomi juga bagus apalagi masyarakat sudah terbiasa dengan tempe non kedelai. Menurutnya pemerintah dapat mendorong dan menggalakkan penanaman serta produksi. 

Lahan Pertanian 

Pakar pertanian UGM, Dr Jamhari SP MP mengatakan kedelai merupakan tanaman yang secara alamiah dapat berproduksi secara maksimal di daerah subtropis sehingga cukup wajar jika produktivitas panen kedelai di Indonesia tidak sebaik negara-negara produsen utama kedelai. 

Sejumlah varietas kedelai yang ditanam di Indonesia sebenarnya memiliki potensi produksi yang cukup tinggi, namun selama ini masih terdapat celah antara potensi dengan jumah produksi nyata. Salah satu penyebab rendahnya jumlah produksi kedelai di Indonesia, yakni minimnya lahan pertanian. Solusi jangka pendek untuk persoalan tersebut, mengintegrasikan pertanian kedelai dengan lahan tanaman perkebunan dan kehutanan. 

''Pengembangan industri produk substitusi dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang jika diupayakan secara serius oleh pihak-pihak terkait, termasuk di antaranya pemerintah dan pelaku industri. Pengembangan varietas seperti koro pedang belum mencapai produktivitas yang maksimal karena kurangnya keseriusan dalam mengembangkan pengganti kedelai impor. Padahal, ujung tombak dari upaya ini seharusnya terletak pada mereka yang memiliki sumber daya teknologi dan kemampuan untuk mengembangkan produk pertanian yang sesuai dengan iklim Indonesia,'' papar Jamhari. 

Ia minta masyarakat mengonsumsi bahan pangan yang diproduksi di negara sendiri untuk mengurangi beban impor produk pangan. Keragaman hayati yang dimiliki Indonesia bukan sekadar untuk dijaga dan dilestarikan tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber daya pangan berkelanjutan.

 

(Sumber: https://www.suaramerdeka.com/regional/kedu/251543-pakar-bahan-baku-langka-saatnya-menggiatkan-tempe-non-kedelai)

 


Share Berita


Komentari Berita