Home
news
Murdoko Sampaikan Orasi Dies ke-36 UWM

Murdoko Sampaikan Orasi Dies ke-36 UWM


Rabu, 2018-10-10 - 10:47:16 WIB

 

Sebagai rangkaian mata acara Dies Natalies ke-36 Universitas Widya Mataram (UWM), upacara dies digelar pada Selasa (9/10/2018) di Pendapa Agung UWM. Upacara dies berlangsung sakral dengan dihadiri pengurus Yayasan Mataram Yogyakarta (YMY), Senat UWM, para pejabat struktural, dosen, karyawan dan mahasiswa di lingkungan UWM.

Dalam sambutan dan laporan tahunan, Rektor UWM, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec mengatakan didepan hadirin untuk menghilangkan ego sektoral untuk mewujudkan UWM menjadi baik. Dengan begitu maka sangat mungkin dalam waktu 4 tahun lagi sudah take of dan mandiri. Disamping itu, Rektor juga mendorong para dosen agar segera melanjutkan studi S3 dan go international untuk meningkatkan kualitas mutu. Diusia 36 tahun, Rektor bertekad untuk merubah UWM menjadi lebih baik.

Sementara itu, Anggota Pembina YMY, Prof. Dr. Djoko Suryo, MA Menyampaikan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan genapnya usia UWM ke 36, artinya UWM sudah cukup matang dan dewasa. Beliau juga mendukung dengan adanya harapan Rektor UWM agar para dosen bisa go international.

Upacara dies juga diisi dengan orasi ilmiah disampaikan oleh Dr. (can) Murdoko, SH., MH dosen Fakultas Hukum UWM. Dalam orasinya yang berjudul Konfigurasi Pembentukan Peraturan Daerah Khusus Bernuansa Agama dalam Bingkai NKRI, Murdoko memaparkan berkait persoalan Peraturan Daerah (perda) khusus yang tidak sejalan dengan sistem hukum nasional sehingga akan mengancam kerangka dasar atau pijakan hukum. Hal tersebut mengingat perda bernuansa agama dapat menciptakan intoleransi dalam kehidupan beragama berdasar keadaban dan kemanusiaan.

Perda harus dikembalikan pada fungsi utamanya yaitu; 1). Menyelanggarakan pengaturan dalam penyelenggaraan otonomi daereah dan tugas pembantuan; 2). Menyelenggarakan pengaturan sebagai penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri khas masing-masing daerah; 3). Menyelenggarakan pengaturan hal-hal yang tidak bertentangan dengan kepentingan umum; 4). Menyelenggarakan pengaturan hal-hal yang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Pada akhir orasinya, Murdoko memberikan beberapa tawaran solusi bahwa nilai agama tetap terbuka untuk masuk ke dalam ruang publik, namun pola yang dilakukan tidak mengaktualisasikan nilai agama tertentu. Dalam polanya mengambil nilai-nilai universal yang dimiliki oleh masing-masing agama mencakup ajaran keadilan, kesetaraan, tolong menolong dan nilai sejenisnya®HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita