Home
news
Mengurangi Angka Pengangguran dari Lingkup Kampus UWM

Mengurangi Angka Pengangguran dari Lingkup Kampus UWM


Sun, 2020-01-12 - 18:02:20 WIB

 

Jika kita lihat di Indonesia ini Program Studi (Prodi) Kewirausahaan masih sangat sedikit. Universitas Widya Mataram (UWM) baru dua tahun lalu memiliki prodi Kewirausahaan dan merupakan angkatan pertama untuk Perguruan Tinggi (PT) yang memiliki prodi tersebut. Demikian diuraikan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec Rektor UWM dalam talkshow Kewirausahan dan Pemberdayaan Perempuan pada Era Millenial Minggu (12/1/2020) di Attrium Jogja City Mall. Talkshow menjadi salah satu rangkaian acara UWM Got Talent yang di gelar para mahasiswa Prodi Bisnis Kewirausahaan semester satu selama di akhir pekan minggu ini selama dua hari.

"Indonesia memiliki angka pengangguran yang tergolong tinggi. Angka pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 7 juta lebih, padahal potensi usaha sebenarnya besar. Hal itu salah satunya dilatar belakangi mentalitas masyarakat Indonesia yang lebih condong menjadi buruh, pegawai dan pencari kerja, sementara pengusaha di Indonesia masih diangka 3,1 % dari total penduduk." terang Edy.

Berdasarkan penjelasan mantan Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) itu, berangkat dari persoalan tersebut maka UWM memiliki concern untuk menambah jumlah pengusaha dengan membuka prodi Kewirausahaan. Menurutnya harus terus didorong agar mental masyarakat beralih bermental mau mengambil resiko.

Perubahan zaman terutama era 4.0 ini, lanjut Edy, masyarakat dan khususnya kaum milenial harus mampu memanfaatkan teknologi informasi dan melihat peluang untuk menjadi pengusaha. Hampir setiap orang sudah memiliki gadget handphone dan mengakses internet sehingga hal itu harus terus diedukasi agar masyarakat lebih kreatif dan inovatif.

Senada dengan itu, GKR Mangkubumi mengatakan bahwa potensi di era 4.0 ini harus lebih memberikan fokus pada perempuan dengan misi membantu suami, mendukung perekonomian keluarga. Sedangkan bagi perempuan yang belum menikah harus diberdayakan agar perempuan tidak selalu bergantung pada orang lain, harus berdiri di atas kaki sendiri.

“Tidak perlu muluk-muluk, cukup dengan melihat potensi sekitar untuk mencari peluang usaha tanpa harus selalu diawali dengan modal besar,” jelas GKR Mangkubumi.

Menurut GKR Mangkubumi, tanpa biaya besar pun perempuan dapat memanfaatkan gadget untuk minimal order dengan tetap menjaga kualitas produk yang ditawarkan kepada masyarakat melalui sistem online

“Dalam pemberdayaan itu based nya adalah ekonomi. Masyarakat dituntut untuk berkreasi yang akhirnya akan menjadi berdaya,” ungkap Kepala Kadin DIY itu. Khususnya para kaum perempuan harus siap berkompetisi dengan jenis usaha yang dijalaninya.

Dampak pemberdayaan perempuan, lanjut GKR Mangkubumi, adalah mendongkrak perekonomian yang nantinya akan menjawab permasalahan selama ini bahwa sebagian besar permasalahan masyarakat berakar ekonomi dan berakhir dengan menyalahkan dan mengorbankan perempuan.

©HumasWidyaMataram

 


Share Berita


Komentari Berita