Home
news
Memerangi Radikalisme, Universitas Widya Mataram dan ICMI Gelar Diskusi

Memerangi Radikalisme, Universitas Widya Mataram dan ICMI Gelar Diskusi


Kamis, 2018-06-07 - 20:05:38 WIB

 

Paham radikalisme dan terorisme nampak nyata telah mengancam Indonesia, bahkan intensitas ancaman itu jauh lebih dalam akhir-akhir ini. Bentuk teror dan gerakan radikalis sudah sangat kompleks, baik dalam perekrutannya, maupun dalam eksekusinya. Penanganan gerakan radikal dan teror itu bukan hanya tanggung jawab aparat penegak hukum, melainkan seluruh elemen masyarakat termasuk cendikiawan dan akademisi.

Menyadari kebutuhan peran serta itu, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) bekerja sama dengan Universitas Widya Mataram (UWM) menyelenggarakan sarasehan bertema ‘Antisipasi dan Mencegah Gerakan Terorisme: Apa yang Harus Dilakukan?’. Sarasehan digelar pada kamis (7/06/2018) di Bale Raos Restaurant.

Beberapa pembicara dihadirkan dalam acara sarasehan tersebut diantaranya Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH.SU; Prof. Edy Suandi Hamid, M.Ec; Ketua ICMI DIY Herry Zudiyanto, SE., A.Kt., MM; Kombes Pol Hadi Utomo; dan Prof Syafaatun Almirzanah seorang akademisi dari UIN Sunan Kalijaga. Ketua pelaksana Ahmad Charris Zubair menyampaikan bahwa acara ini dihadiri oleh 66 peserta dengan harapan bisa memberikan sumbangsih dalam mengatasi meluasnya paham radikalisme.

Sementara itu, menurut Wakil Rektor III UWM Dr. Jumadi, SE., MM yang juga sekretaris panitia dalam acara tersebut menyampaikan bahwa radikalisme yang bersifat negatif akan menimbulkan intoleransi, dan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya kita yang merupakan bangsa toleran, saling menghormati, dan kekeluargaan.

Dalam hal penanggulangan terorisme ini Prof. Edy lebih menyoroti antisipasi radikalisme melalui pendidikan. Paham radikal yang melekat dalam pola pikir seseorang atau sekelompok masyarakat tidak bisa hanya dihadapi dengan kekerasan, namun perlu meluruskan pola pikir itu melalui proses pendidikan. Proses pendidikan harus menghasilkan insan yang siap menerima perbedaan. Proses pendidikan tersebut harus dimulai dari rumah tangga, dan pendidikan sejak dini. “Akar radikalisme bukan semata mata mengatasnamakan agama, namun juga menjadikan permasalahan sosial, seperti kemiskinan dan ketimpangan sebagai alasan. Oleh karenanya perlu membuka ruang dialog bagi masyarakat. Serta memasukkan ajaran nilai luhur Indonesia ke mahasiswa yang baru masuk sebelum paham lain masuk ke pola pikir mereka”, tandas UWM tersebut.

Prof. Syafaatun setuju dengan hal tersebut. Pada dasarnya akar radikal memang terletak pada masalah sosial di mana manusia berada pada dua sisi yaitu konkretis dan intuitif. “Pendekatan terorisme hanyalah satu dari sekian banyak manifestasi fundamentalisme. Apa yang bisa diperbuat adalah memotong pendekatan dengan memahami pola pikir manusia itu sendiri”, kata Guru Besar UIN Suka tersebut.

Kombes Pol Hadi lebih menyoroti penanganan terorisme melalui usaha bersama masyarakat. Keberadaan terorisme sebenarnya dapat dicegah bahkan dihambat dengan meningkatkan kepedulian masyarakat. Oleh karaneanya sebagai warga negara yang baik seharusnya seluruh masyarakat harus saling mengenal satu sama lain. Jangan sampai seorang tidak mengenali tetangganya sendiri. “kami bersyukur UU anti terorisme telah disahkan”, ucap Beliau. Meski demikian Pol Hadi menghimbau sekali lagi bahwa masyarakat harus selalu bergandeng tangan dalam menangkal radikalisme dan terorisme. Harapannya supaya masyarakat tidak hanya berpangku tangan menyerahkan kepada densus 88.

Prof. Mahfud menyoroti akar permasalahan dengan sisi yang berbeda dari yang lain. Prof. Mahfud memaknai bahwa dalam beragama memang harus bernegara. Sedang bernegara itu sendiri bentuknya didapat dari proses legislasi. “bernegara itu wajib hukumnya, namun memang tidak pernah ada bentuk yang diajarkan”. Jelas Prof. Mahfud. Oleh karenanya, memperjuangkan sebuah bentuk negara itu sah dan boleh selama melewati proses legislasi yang jelas dan tidak mengakibatkan perpecahan, apalagi Fundalisme dan terorisme.

Sejatinya seluruh elemen masyarakat mengutuk aksi- aksi terorisme yang tengah berkembang di masyarakat. Selanjutnya perlu adanya penanggulangan secara sistemik dan terintegritas. Oleh karenanya ICMI dan UWM sepakat dan berkomitmen untuk memberantas terorisme melalui pendekatan akademis. ®HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita