Home
news
Keunikan UWM, Harus Bisa Mentransformasikan Budaya Dalam Konteks Tridharma

Keunikan UWM, Harus Bisa Mentransformasikan Budaya Dalam Konteks Tridharma


Senin, 2019-10-07 - 19:51:51 WIB

 

Usia 37 tahun bagi Universitas Widya Mataram (UWM), adalah saatnya bagi UWM untuk mengevaluasi capaian dalam menghasilkan insan akademik profesional, kreatif, inovatif, produktif yang berbudaya. Kemudian menghasilkan insan yang mampu mentransformasikan nilai-nilai budaya dan menghasilkan karya-karya ilmiah bermutu dan bermanfaat membangun ilmu pengetahuan dan teknologi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal itu disampaikan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Prof. Dr. Didi Achjari, SE., M.Com, Akt dalam sambutan Dies Natalis ke-37 UWM Senin (7/10/2019) di Pendopo nDalem Mangkubumen.

“Tampaknya semua memiliki ruh budaya Jawa khususnya Kraton yang kemudian dibungkus dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Ini suatu hal unik sekaligus berat karena menggunakan budaya didalam konteks Tridharma tidak semua PT bisa melakukan. Keunikan UWM tidak hanya terkait aspek budaya yang bersifat ritual dan senin,” kata Didi.

Didi menjelaskan keunikan UWM juga tentang bagaimana mentransformasikan aspek budaya ke dalam konteks pencapaian tujuan UWM. Dalam melakukan riset dan inovasi UWM memiliki peran penting untuk mengglobalkan produk-produk lokal. Temuan hasil penelitian diharapkan bisa untuk menyelesaikan masalah lokal baik ekonomi, lingkungan, sosial, budaya dan lainnya.

“LLDIKTI Wilayah V Yogyakarta mendorong UWM untuk selalu meningkatkan qualified data dari aspek pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, kami siap untuk selalu membantu UWM mencapai tujuan,” terangnya.

Sementara itu drg. Suryono, SH., MM., Ph.D perwakilan alumni UWM menyampaikan Dies Natalis ini sebagai momentum mawas diri, melihat apa yang sudah dikerjakan.

Alumni Fakultas Hukum UWM yang saat ini juga menjadi Dosen di Fakultas Kedokteran UGM tersebut mengatakan Diluar sana banyak orang-orang belajar budaya justru ke Jerman, belajar penyakit tropis justru di Jepang.

“Saya berharap UWM ini ke depan bisa menjadi leader untuk membawa budaya lokal mendunia,” kata Suryono yang juga Dekan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan Agung (Unisulla) Semarang itu.

Orasi ilmiah juga disampaikan oleh Dr. Satrio Hasto Broto Wibowo, ST., M.Sc Dosen Arsitektur Fakultas Teknik UWM. Orasi yang disampaikan bertajuk Menyelamatkan Arsitektur Jawa Membangun Jati Diri.

Rapat senat terbuka itu juga diserahkan beberapa penghargaan bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan berprestasi, Program Studi dengan budaya mutu terbaik, doktor baru.

Penghargaan juga diberikan bagi dosen dan tenaga kependidikan dengan masa kerja di atas 30 tahun tanpa henti, tanpa cacat dan tanpa cela di lingkungan UWM yang kemudian mendapatkan pin emas. Pemberian pin merupakan penghargaan pertama kali yang diberikan di UWM.

 

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita