Home
news
Karya Seni Bukan Sekedar Ekspresi Romantisme

Karya Seni Bukan Sekedar Ekspresi Romantisme


Rabu, 2021-12-29 - 18:04:44 WIB

Karya seni dari seniman sebaiknya tidak sekadar mengekspresikan romantisme dan nostalgia. Seniman manapun dalam berkarya perlu menunjukkan konteks sosial dan ideologi yang tersirat maupun tersurat di dalam karya seninya.

Dekan Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) 2008-2012 dan 2012-2016 Alex Luthfi Rahman menyatakan, kesadaran tentang konteks sosial dan ideologi dalam karya seni diekspresikan mulai 1995. Dalam karya lukis tema “Babi Berdasi”, terdapat pesan di dalamnya tentang narasi realitas keseharian yang kerap terjadi dan dialami dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Tema lukisan saya berubah mulai 1995. Muncul idealisasi karya seni saya, seni bukan lagi soal romantisme, dan tidak punya konteks sosial. Saat itu saya mulai membaca konteks sosial tentang apa yang terjadi dengan kekuasaan, politik, oligarki, dan seni dengan konteks sosial aktual lainnya,” kata dia saat bedah buku karyanya “Laku dan Lelaku”.

Kegiatan itu dilaksanakan usai Peluncuran Lingkar Pendopo Agung oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec, Selasa (28/12/2021). Ikut dibedah juga buku lainnya karya Dr. Kelik Endro Suryono, M.Hum, “Penguatan Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Daerah”.

Alex Luthfi menegaskan, laku dalam seni tidak berhenti hanya pada ekspresi seni objektif dari sang seniman, perlu terdapat di dalamnya penyikapan terhadap konteks sosial. Sikap itu bagian dari ekspresi ideologi seniman yang mengendap di dalamnya. Itu bisa dikenali dari tema sebuah karya seni.

“Saya mendalami beberapa periode seni, dari periode Wayang Rumput, ke periode Seni Topeng (mask). Periode berikutnya masuk pada periode konteks sosial dan ideologis dalam episode yang saya sebut periode Babi Berdasi. Periode terakhir ini sangat kental dengan ideologi dan konteks sosial dalam setiap karya saya.”

Murid Alex yang kini menjadi dekan Fakultas Seni Media Rekam ISI, Dr. Irwandi menyatakan, semangat gurunya dalam berkaya seni dan menuangkan pemikirannya dalam bentuk buku, itu mengirim pesan penting.

“Spirit pak Alex agar penciptaan dari karya seni jangan hilang atau berhenti di tengah kebijakan Kementerian Pendidikan Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi masa Nadiem Makarim, yang menerapkan indikator utama sukses perguruan tinggi adalah berapa banyak lulusannya cepat kerja. Sementara pendidikan seni berorientasi pada karya, tidak berorientasi kelulusan dan kerja.”

Guru Alex, fotografer nasional Risman Marah menyatakan, Alex merupakan sosok seniman yang kreatif dan dinamis, tidak bisa tenang dengan keadaan yang berkembang.

“Dia sangat menyadari seniman tidak bolek tenang, mandeg. Seniman itu harus dinamis, harus menumbuhkan gejolak. Saya membayangkan Alex tidak bisa berkarya ketika tidak terjadi dinamika keadaan. Dia terus berkaya karena ada konflik. Karena itu seni hidup dari konflik.”

Wakil Rektor III UWM Puji Qomariyah, S.Sos, M.Si memahami karya buku Alex menjadi penanda tentang sumber literasi bagi seniman. Di tengah kelangkaan sumber literasi seni rupa yang berasal dari tulisan langsung sang seniman, maka karya Alex menjadi rujukan penting bagi para seniman muda dalam proses berkarya seni.

“Minimnya sumber literasi pada saat bersamaan terjadi perubahan cara baca dan pandang akibat perkembangan teknologi dan juga pengetahuan, telah mendorong seniman-perupa muda hari ini terkesan ahistoris. Jangankan untuk mengenal mendiang para seniman senior seperti S. Sudjojono, Basuki Abdullah, Raden Saleh, Henk Ngantung, Nashar, Hendra Gunawan, Batara Lubis, Muchtar Apin, para seniman muda untuk mengenal Nyoman Masriadi yang masih hidup pun bukan perkara mudah,” ujar dia.

Seandainya satu persen dari ribuan jumlah seniman-perupa di Yogyakarta menulis buku sebagai ikhtiar merawat sumber-sumber literasi seni, menurut Puji Qomariyah, betapa kayanya warna seni (rupa) Indonesia dalam memberikan “warna” bagi seni rupa dunia. “Saya tidak bermaksud menyudutkan minimnya literasi bidang seni, situsi yang tidak jauh berbeda terjadi di bidang lain di luar seni.”

Terdapat sisi positif dalam kemajuan teknologi yang bisa menjadi alat bantu dalam proses karya seni. Masalahnya teknologi analog dan digital hanyalah masalah metode.

“Manakala sumber-sumber literasi sudah tersusun dan tersedia, kedua metode (analog-digital) bisa digunakan. Tersedianya sumber literasi akan membuka ruang dialog yang lain manakala terjadi perjumpaan sumber literasi itu sendiri. Inilah yang menjadi relevansi dari sebuah buku yang ditulis sendiri oleh seniman-perupa. Kondisi demikian menjadi tanggungjawab semua lembaga pendidikan dan perguruan tinggi,” ujar dia.

©Humas WidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita