Home
news
Hidup di Daerah Rawan Gempa, Perlu Model Rumah Adaptif Gempa

Hidup di Daerah Rawan Gempa, Perlu Model Rumah Adaptif Gempa


Jumat, 2021-10-29 - 15:46:51 WIB

YOGYAKARTA,

Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof. Dr. Edy Suandi Hamid berpendapat, manajemen kampus dan para dosen harus menciptakan ruang perkuliahan yang menarik dan aplikatif dalam berbagai sesi kuliah. Nuansa kuliah demikian merangsang mahasiswa terlibat aktif dalam proses mendapat ilmu pengetahuan.

“Dengan adanya perangkat pendukung perkuliahan, peralatan tertentu tidak hanya mendukung perwjudukan Indikator Kinerja Utama (IKU) dalam universitas, hal ini mendorong terciptanya perkuliahan kolaboratif dan partisipatif,” kata Prof. Edy dalam sambutannya acara Sosialisasi Bangunan Rumah Rakyat Tahan Gempa, di Universitas Widya Mataram, Jumat (29/10/2021).

Acara tersebut sekaligus dengan penyerahan peralatan simulasi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa dari Sarwidi Center, karya Prof. Sarwidi, PhD, Guru Besar Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Islam Indonesia (UII). Mantan komisaris dan penasihat Badan Nasional Penanggungalan Bencana (PNPB). Dalam penyerahan peralatan tersebut Prof. Sarwidi berharap pihak Universitas Widya Mataram, baik dosen dan mahasiswa terlibat aktif dalam mengembangkan alat simulasi sebagai bentuk Merdeka Belajar Kampus Merdeka.

Prof. Edy Suandi Hamid mengharapkan perangkat simulasi gempa dan protopite bangunan rumah tahan gempa menjadi daya tarik mahasiswa teknik, dan menjadi nilai tambah mahasiswa. Apabila mereka mau serius memelajari peralatan tersebut, mereka bisa mengembangkan perangkat serupa, bahkan menciptakan peralatan baru yang lebih canggih. Mereka juga bisa menciptakan prototipe baru bangunan tahan gempa, dengan meneliti model bangunan tahan gempa karya Prof. Sarwidi.

“Saya berharap peralatan simulasi gempa dan bangunan tahan gempa memberikan nilai tambah bagi para mahasiswa, dan mendorong minat mereka untuk mengembangkan peralatan simulasi maupun menciptakan rumah tahan gempa yang cocok dengan kemampuan dan situasi di Indonesia,” ujar dia.

Menurutnya, wilayah Indonesia berada dalam ring of fire (cincin api) yang potensial terjadi gempa bumi. Daerah demikian memerlukan bangunan tahan gempa.

“Masyarakat perlu diedukasi untuk membangun rumah-rumah yang bisa meminimalkan dampak dari gempa bumi. Mahasiswa, utamanya di bidang teknik, juga perlu memahami proses pembuatan bangunan tahan gempa, dan mereka bisa praktik dalam tugas keteknikannya di masyarakat,” kata dia.

Khusus bagi tim task force Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), menurut Prof. Edy Suandi Hamid, penyerahan alat simulasi gempa dan bangunan tahan gempa dari Sarwidi Center, tidak sebatas bisa memanfaatkan peralatan simulasi untuk praktik mahasiswa, tim bisa juga mendukung memasyarakatkan bangunan rumah rakyat tahan gempa, yang sudah dikembangkan Prof Sarwidi selama dua dasawarsa terakhir ini.

Edukasi

Ketua Task Force PPKM Prof. Dr Ambar Rukmini, MP senada dengan Prof. Edy Suandi Hamid tentang edukasi banguann tahan gempa.

“Kita hidup di wilayah rawan bencana, termasuk rawan gempa. Penggunaan alat simutasi gempa dan prototipe bangunan tahan gempa sebagai praktik mitigasi bencana dan upaya preventif jatuhnya banyak korban saat bencana gempa terjadi.”

Selain itu tim task force beserta mahasiswa akan berusaha mengembangkan peralatan sumulasi gempa agar alat itu bisa dimodifikasi dalam simulasi berbagai skala kegempaan, dari skala kecil sampai besar, dan dari berbagai model gempa.

Sementara Prof. Sarwidi berpendapat, gempa bumi masuk kategori bencana misterius, yang belum terdapat alat yang bisa mendeteksi kapan gempa terjadi.

“Bencana selain gempa, kita bisa memprediksi, sementara gempa bumi belum ada ahli maupun peralatan yang bisa memerkirakan kapan gempa terjadi dan berapa skalanya,” ujar dia.

Yang lebih rumit, menurut dia, gempa yang terjadi di satu daerah biasanya berbeda karakter dan skalanya. Setiap negara atau wilayah memiliki karakter gempa yang sulit diperkirakan.

“Indonesia masuk kategori memiliki karakter khusus gempa yang tidak sama dengan kasus gempa di Jepang dan negara lain. Saya berharap alat simutasi gempa ini membantu untuk mendapat solusi untuk memahami karakter goncangan yang ditimbulkan dari gerakan gempa dan para mahasiswa bisa mengembangkan prototipe baru bangunan tahan gempa,” ujar dia.

©WidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita