Home
news
Gelar Diskusi Online, Dosen Ilkom UWM Undang Penyandang Difabel dan Wakil Walikota Yogyakarta

Gelar Diskusi Online, Dosen Ilkom UWM Undang Penyandang Difabel dan Wakil Walikota Yogyakarta


Jumat, 2021-09-10 - 16:18:52 WIB

Dalam mewujudkan kota yang memiliki layanan ramah difabel, setidaknya terdapat lima kebijakan afirmasi yang telah disiapkan oleh pemerintah Kota Yogyakarta. Pada masa pandemi Covid-19 ini Kota Yogyakarta memiliki prioritas sasaran diantaranya kelompok miskin, kelompok perempuan, kelompok lansia, kelompok anak-anak dan kelompok penyandang difabel.

Hal itu dikemukakan Drs. Heroe Poerwadi, MA Wakil Walikota Yogyakarta sekaligus Ketua Pokja Menuju Kota Inklusif APEKSI dalam Diskusi Online (Diskon) bertema “Kawasan Ramah Difabel” yang diinisiasi Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Universitas Widya Mataram (UWM) Dyaloka Puspita Ningrum, S.I.Kom., M.I.Kom, Rabu (8/9/2021). Dalam pelaksanaannya, Dyaloka menggandeng Armada Difabike sebagai pelopor bisnis transportasi pertama ramah difabel yang juga fokus memberdayakan sesama difabel.

Menurut Heroe, fasilitas yang mengarah pada percepatan Program Vaksinasi Covid-19 sejauh ini juga sudah cukup merata didistribusikan pemerintah kepada kelompok sasaran penyandang difabel. Wakil Walikota Yogyakarta itu mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjadi public relation yang dapat mengkampanyekan prinsip kepantasan dan keadilan terhadap kelompok penyandang difabel dimanapun mereka berada.

Ada banyak hal yang dapat disoroti terkait keberadaan para penyandang difabel. Triyono yang merupakan salah satu peserta dikusi dan Founder Armada difabike berharap kelompoknya tidak lagi hanya dipandang sebelah mata saja oleh masyarakat pada umumnya.

“Manifestasi terhadap percepatan kawasan inklusif yang ramah difabel, perlu didukung oleh partisipasi masyarakat dengan kesadaran dan kesungguhan dalam menyiapkan akses maupun mobilitas yang ramah difabel,” ungkap Triyono.

Dyaloka menuturkan, secara keseluruhan didalam menciptakan layanan ramah difabel yang aman dan nyaman terutama melalui aksesibilitas dan mobilitas di Kota Jogja memang masih belum begitu memadai. Hal itu terlihat dari masih sangat minimnya sarana, penataan, bantuan dan edukasi yang memudahkan kelompok difabel beraktivitas di ruang publik.

“Misalnya saja di transportasi umum, toilet umum, pom bensin, bangunan perkantoran, pusat perbelanjaan, tempat parkir, tempat ibadah dan objek wisata,” sebut Dyaloka.

Konsep inklusif di Indonesia lebih mengarah kepada isu-isu difabel berdasarkan instrumen penilaian Unesco (2017), sehingga menjadi tantangan terhadap regulasi penunjang yang perlu dioptimalkan dengan berbagai program terkait.

“Para pemangku kepentingan harus dapat memahami permasalahan, memetakan kebutuhan, dan mengembangkan potensi para penyandang difabel di kota Jogja dengan berbagai inovasi pemberdayaan khususnya yang berbau virtual pada masa adaptasi kebiasaan baru,” paparnya.

Dyaloka menjelaskan, kegiatan disksusi ini merupakan lanjutan dari rangkaian penelitian yang dibiayai oleh Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional tahun 2021.

©HumasWidyaMataram


Share Berita


Komentari Berita