Home
news
Dies Natalis ke-39 UWM : KEARIFAN LOKAL DALAM NASI TUMPENG

Dies Natalis ke-39 UWM : KEARIFAN LOKAL DALAM NASI TUMPENG


Selasa, 2021-10-05 - 13:29:20 WIB

Menjelang dasawarsa atau tepatnya memasuki usia ke-39 Universitas Widya Mataram menyelenggarakan perayaan syukuran dalam rangka Dies Natalis. Dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-39 tersebut ada acara unik yaitu lomba menghias tumpeng di Pendopo Agung Universitas Widya Mataram pada hari Senin (04/10). Acara tersebut dihadiri oleh sivitas akademika dengan tetap prokes ditengah antusiasme dari segenap sivitas akademika Universitas Widya Mataram menciptakan kehangatan dan keakraban dalam rangkaian perayaan Dies Natalis.

Tumpengan merupakan tradisi rasa syukur yang memiliki makna filosofi tersendiri, tidak sekesar nasi dengan bentuk kerucut dengan berbagai lauk. Menurut penjelasan salah satu juri dalam lomba tersebut Prof. Dr. Ambar Rukminin yang sekaligus dosen Program Studi Teknologi Pangan dan Dekan Saintek UWM bahwa tumpeng merujuk pada akronim Jawa yaitu yen metu kudu sing mempeng artinya kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh.

Dalam sambutannya Rektor Universitas Widya Mataram Prof. Dr. Edy Suandi Hamid menyatakan bahwa, tema dari acara dies natalis ini adalah “Hamemayu Hayuning Widya Mataram dalam Membangun Budaya dan Karakter Bangsa. Artinya Universitas Widya Mataram memiliki peran dalam melindungi dan mengedukasi masyarakat dan kedepannya diharapkan kehadiran UWM dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Perlombaan dan pembagian nasi tumpeng bermakna sebagai simbol mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perjalanan yang telah dilewati Universitas Widya Mataram selama 39-tahun berdiri.

“Universitas Widya Mataram yang telah mencapai usia 39 tahun harus disertai dengan keyakinan dan spirit untuk kedepan terus bekerja keras, bergandengan tangan, saling membantu untuk membesarkan Universitas Widya Mataram.” Pesan dari Prof. Edy pentingnya kerjasama antar sivitas akademika untuk membantu membesarkan Kampus Universitas Widya Mataram.

Sebagai kampus yang memiliki tagline kampus berbasis budaya sudah selayaknya menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal sebagai bentuk upaya ikut berperan dalam menjaga melestarikan warisan budaya. Sehingga tidak salah jika tema hamemayu hayuning bawana kemudian diadopsi menjadi hamemayu hayuning widya mataram.

“Makna dari tumpeng menggambarkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa dan hubungan kepada sesama manusia. Tumpeng tidak boleh dipotong karena sesuai filosofi bagian atas tumpeng menggambarkan representasi hubungan permohonan antara manusia dengan Tuhan. Dengan memotong tumpeng, berarti memotong permohonan do’a manusia kepada Tuhan.” demikian penjelasan lebih lanjut Prof. Ambar Rukmini.

Oleh karena itu, tumpeng dimakan dengan dikepung atau harus dimakan bersama-sama mulai dari bawah, diambil nasi dengan lauknya. Lalu bergeser ke puncaknya dan terus turun sampai akhirnya puncak menjadi satu bagian dasar dengan tumpeng. Cara ini memiliki filosofi “Manunggaling kawulo lan Gusti” atau “Sang pencipta tempat kembali semua makhluk.”

Lebih lanjut Prof Edy menutup sambutannya menjelaskan makna filosofi dari 7 macam lauk yang melengkapi nasi tumpeng yaitu kepercayaan kita terhadap angka tujuh, yang dalam bahasa jawa adalah pitu, bermakna pitulungan atau pertolongan. Prof Edy mengajak kita semua untuk saling membantu dalam kondisi apapun agar tercipta kesejahteraan dan kemaslahatan bersama.

Dalam acara lomba menghias tumpeng tersebut pemenangnya adalah Fakultas hukum berhasil meraih juara ketiga , juara kedua diraih oleh Tim dari Rektorat, dan juara pertama diraih oleh Fakultas Sains dan Teknologi.

Foto : Humas UWM


Share Berita


Komentari Berita