Home
news
Dampak Virus Corona terhadap Pariwisata, Ekonomi dan Upaya Penanganan

Dampak Virus Corona terhadap Pariwisata, Ekonomi dan Upaya Penanganan


Rabu, 2020-02-26 - 14:18:28 WIB

Tidak dapat dipungkiri bahwa ekonomi Jogja banyak disumbang dari sektor pariwisata, baik yang didukung oleh wisatawan domestik maupun wisatawan manca negara. Adanya virus corona yang menyerang beberapa negara terutama China mengakibatkan terjadinya penurunan kunjungan wisatawan-wisatawan dari Tiongkok ke Indonesia, terutama ke Jogja. Penurunan wisatawan Tiongkok ke Jogja memjadi masalah tersendiri karena jumlah wisatawan Tiongkok merupakan wisatawan mancanegara terbesar kedua setelah Malaysia.

Penurunan wisatawan Tiongkok ini menyusul dihentikannya penerbangan-penerbangan dari Indonesia ke Tiongkok dan sebaliknya sejak 5 Februari 2020 pukul 00.00. Namun kalau hal ini disikapi dengan bijak dan tidak panik maka kejadian ini dapat menjadi momentum bagi pemda dan pelaku industri pariwisata di Indonesia untuk dapat mengembangkan destinasi wisata dalam negeri.

Selain dunia pariwisata, virus corona juga berdampak terhadap dunia perdagangan terutama yang diimpor dari Tiongkok/China maupun yang diekspor ke China. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat nilai ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok menurun pada Januari 2020. Hal tersebut dipengaruhi mewabahnya virus corona.

BPS menyatakan ekspor ke Tiongkok turun sebesar 12,07 persenmenjadi 2,24 miliar dollar AS pada Januari 2020. Sedangkan nilai impor terkontraksi sebesar 2,71 persen menjadi 4 miliar dollar AS. Ada 10 Golongan Barang Impor HS 2 Digit Terbesar dari China (dalam miliar dollar AS)) yaitu elektronik 10,06 dollar AS dan barang-barang mesin 9,86 dollar AS, besi dan baja 2,17, plastik 1,75, Kimia Organik 1,54, benda-benda dari besi dan baja 1,5, kendaraan dan bagiannya 1.01, filamen tekstil 0.97, aluminium dan turunannya 0.88 serta kimia anorganik 0.83.

Data di atas dapat terlihat bahwa golongan barang HS 85 dan HS 84 hampir mendominasi barang impor yang datang dari China. Dalam HS 85, barang yang paling banyak diimpor adalah telepon seluler (HS 8517), dengan nilai mencapai 3,72 miliar dollar AS pada tahun 2018.

Berkurangnya impor dari China ini akan berdampak terhadap naiknya harga komoditas China yang diperjualbelikan di Indonesia sehingga hal ini akan berdampak terhadap rendahnya daya beli masyarakat. Selain produk industri manufactur dari China maka produk pertanian dari China juga berdampak sehingga harga komuditas pertanian dari China juga melambung.

Untuk mengatasi dampak kesehatan/penularan dan dampak ekonomi virus corona maka perlu disikapi minimal dengan hal penting sebagai berikut. Pertama, pemerintah dusat dan daerah seyogyanya melakukan edukasi terhadap prilaku hidup sehat serta melakukan penyuluhan terhadap faktor penyebab munculnya virus Corona dan antisipasi terhadap penularannya.

Kedua, kemerintah pusat dan daerah melalui dinas atau departemen terkait melakukan tindakan dalam upaya menenangkan hati dan pikiran masyarakat dengan cara menangkal pemberitaan-pemberitaan yang tidak benar sehubungan dengan adanya virus Corona tersebut. Upaya ini dapat dilakukan pemerintah dengan membentuk Coronamanagement crisis center.

Hal ini penting karena jika hati dan pikiran masyarakat tenang maka tingkat kekebalan tubuhnya juga tinggi/meningkat, sebaliknya jika masyarakat mengalami ketidaktenangan atau kepanikan maka tingkat kekebalanya akan menjadi menurun sehingga mudah mengalami berbagai macam penyakit.

Penanganan terhadap dampak ekonomi dapat dikakukan dengan dengan dua pendekatan yaitu dalam jangka pendek terutama Jogja dapat mengoptimalkan pengelolaan destinasi wisata dan melakukan manajemen layanan yang unggul (service excellent management) terutama untuk destinasi wisata dengan segment pasar wisatawan nusantara.

Sementara dalam jangka panjang tanpa melihat adanya kasus yang sedang berkembang, pemerintah idealnya menyiapkan pembangunan bidang ekonomi tidak hanya bidang industri manufactur namun juga industri pertanian. Selama ini negara Indonesia dikenal dengan kepemilikan lahan yang luas namun beberapa kebutuhan terutama komuditas pertanian masih dicukupi dengan impor.

Oleh karena industri pertanian dipersiapkan dari hulu sampai hilir. Hal terpenting dalam menangani industri pertanian adalah SDM. Oleh karena itu yang perlu dipersipakan adalah SDM pertanian, karena sampai saat ini belum ada dunia pendidikan yang mencetak SDM pertanian (sektor produksi) yang handal.

Idelanya dibangun pendidikan SMU/SMK yang berorientasi industri pertanian seperti ketika Indonesia menyiapkan industri otomotif maka didukung oleh adanya SMK otomotif ada D3 Otomotif bahkan S1 Otomotif, namun di industri pertanian hal itu belum dipersiapkan dengan baik seperti menyiapkan industry bidang otomotif.

Mestinya industri pertanian di Indonesia juga didukung oleh SDM pertanian dengan membuka SMK Pertanian dan D3 Pertanian bahkan S1 pertanian tidak hanya menyiapkan SDM hilirnya tetapi menyiapkan SDM pertanian mulai industri dari hulu sampai industri hilir.

(Sumber berita: https://bernasnews.com/dampak-virus-corona-terhadap-pariwisata-ekonomi-dan-upaya-penanganan/ , narasumber Dr Jumadi SE MMDosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Widya Mataram dan Ketua Ikatan Dosen Republik Indonesia Wilayah DIY)


Share Berita


Komentari Berita